KEKUATAN PENYEMBUH
KEKUATAN PENYEMBUH
Shaykh Abdalqadir as-Sufi
Moussem 1992, Granada
A’udhu billahi min-ash-shaytan ir-rajim
Aku berlindung dari godaan shaytan yang kena rajam
Bismillah ir-Rahman ir-Rahim
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Dhikir dari Al-Quran yang telah kita dengar dalam berbicara tentang mumin dan kafir, dari dua cara keadaan pengertian. Para kafir dengan tamannya dan semua kekayaannya, dan sangat bergembira dengan apa yang mereka capai dan kepemilikannya dan kekayaannya dan mereka mengatakan akan memiliki selamanya. Dan orang Mumin mengerti sesuatu hal yang lain dan ketika bencana tiba, ketika semuanya yang tergeletak hancur berantakan kehilangan makna dan kebijaksanaan dari mumin menjadi jelas terlihat. Mumin mengatakan,
“kenapa kamu tidak mengatakan.”Masha’allah. La quwattta illa billah. Masha’allah. La quwwata illa billah”?
Ini adalah perekat (seal) dari Shaykh Muhammad ibn al-Habib, rahimahu’llah. Kenapa? Karena sebagai Qutb (poros-sumbu) dari jamannya, inilah maqam dari ilmu yang tertinggi, di dalam suatu ilmu yang tidak ada di dunia ini.
“Masha’allah. La quwwata illa billah.”
Ini adalah yang Allah ingin, dan tiada kekuatan kecuali dari Allah. Kata quwwa ini dalam bahasa arab tidak mempunyai arti yang lain. Dan tidak ada akar kata yang lain kecuali kata itu sendiri. Quwwa adalah quwwa. Tidak ada arti lainnya. Dan itu tidak beranjak kemanapun. Dan dalam bahasa arabpun tidak berubah. Quwwa adalah absolut karena quwwa merupakan bagian dari rahasia milik Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah, salallahu alayhi wasallam, berkata kepada para sahabat:
“Saya akan memberikan kekayaan dari kekayaan-kekayaan Taman jika kamu mengatakan, ‘La hawla wala quwwata illa billahi-‘Aliyy’l-Adhim.”
Sekarang ini adalah hadiah dari Rasulullah, salla’llahu ‘alayhi wa sallam, merupakan langkah menuju Ilmu dari ayat yang beliau katakan selanjutnya,
“La hawla wala quwwata.”
Jika kita lihat dalam bahasa arab hawl bukan hanya suatu kekuatan, tapi akar dari hawl berubah, yang adalah tawhil. La hawla wala quwwata. Hanya Allah saja yang dapat membuat perubahan jadi tidak ada perubahan melainkan dari bentuk. Sidi ‘Ali al-Jamal,rahimahu’llah, mengatakan tentang doa para kaum Arifin, Ma’rifatullah, adalah:
“Allah, buatlah saya selalu berubah!’
Biarkan saya selalu berubah karena ini adalah jalan (sabil) Allah, tahwil, perubahan. Dengan kata-kata lain, pada segala sesuatu semuanya selalu berubah. Pada awalnya taman adalah kaya dan menghasilkan kemakmuran, dan manusia menyangka itu dari mereka. Artinya itu mashi’ah dari Allah subhanahu wa ta’ala’l-’Aliyyi’l-Adhim. Yang artinya sendiri kamu tidak dapat merubah posisimu tentang keadaan kehidupanmu. Orang mumin dan kaum arifin adalah dalam tingkatan pemahaman ini.
“La hawla wala quwwata illa billahi’l-’Aliyyi’l-Adhim,”
Yang Maha Hebat,
“Masha’allah. La quwwata illa billah.”
Mereka telah menyerah tentang pendapat pribadi bahwa merekalah yang melakukannya yang tidak lain ini adalah tindakan dari Allah, tanpa shirk, karena Allah adalah aktornya. Allah adalah satu dalam tindakan-Nya, dalam atribut-Nya, dan dalam Zat inti-Nya. Semuanya kembali kepada Dia.
Perbedaan dari orang-orang kafir dan mumin bukan perbedaan tentang Taman-taman melainkan perbedaan dari Ilmu mereka, dan pengertian mereka. Ketika kamu menyadari dan mengerti bahwa Allah yang menggerakan, Allah yang melakukan, selanjutnya kamu dapat melakukan dua hal. Kamu dapat menjadi gila, majnun, karena itu sangat mengerikan. Atau kamu dapat mengambil jalan ini yaitu Sirat al-Mustaqim. Jalan inilah yang akan kamu ingat, dan ketika kamu lupa, kamu ingat:
“Masha’allah. La quwwata illa billahi’l-’Aliyyi’l-Adhim.”
Sayyiduna Muhammad, salallahu alayhi wasallam, berkata tentang dhikr
“La hawla wala quwwata illa billahi’l-’Aliyyi’l-Adhim.”
Dapat memurnikan kekuatanmu, itu dapat mengembalikan kekuatanmu. Dengan kata lain, pendapat bahwa kamu punya kekuatan untuk menjadi sakit. Itu adalah penyakit. Itu bukan dalam kekuasaanmu. Ketika kamu tahu semua itu ada dalam kekuasaan-Nya, ketika kamu menyadari semua urusan akan kembali kepada Allah, semua urusan-urusan kembali kepada Allah.
Inilah mashi’atu’llah. Mashi’atu’llah artinya ketika kamu bertindak, kamu bertindak sesuai dengan yang Allah inginkan. Artinya ini dalam suatu aturan untuk:
“Cinta dengan apa yang Allah cinta dan benci dengan apa yang Allah benci”.
Ini arti adab dari Rasulullah, salla’llahu ‘alayhi wa sallam, Ketika Sayyida A’isha, radiya’llahu ‘anha berkata:
Dia cinta apa yang Allah cinta dan dia benci apa yang Allah benci di dalam Al-Quran” Inilah ijin untuk beramal
Shaykh Muhammad ibn al-Habib, rahimahu’llah, mengatakan sesuatu yang sangat,sangat aneh dalam Diwannya. Katanya:
Para arifin seperti sebuah mesin-mesin, motor-motor bergerak karena kekuatan Ilahi”
Mereka tidak akan bergerak sampai itu pada sabil dari Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah keadaan di Badr ketika Rasulullah, salallahu alayhi wasallam,mengambil pasir dan melemparkannya kepada para musuh. Ini ketika dia berada pada sabil dari Allah subhanahu wa ta’ala yang dikatakan dalam Al-Quran:
“Ketika kamu melempar, bukanlah kamu yang melempar, tapi Allah yang melempar.”
Dasar dari Islam adalah tidak ada shirk. Jadi apa ini? Itulah Rasulullah salla’llahu ‘alayhi wa sallam, telah fana’ dari keadaan waqt jadi pada saat yang singkat dia lenyap. Inilah titik pusat kemenangan perang Badr. pada Uhud mereka mempunyai tentara-tentara, mereka mempunyai senjata-senjata, mereka mempunyai kekuatan, dan mereka kalah. Di perang Badr mereka hanya beberapa dan mereka pergi dalam sabil Allah dan keadaan ini adalah kebenarannya dan mereka memperoleh kemenangan dari perang Badr.
Inilah keadaan para Arifin. Ini kenapa Hasan al-Basri, radiya’llahu ‘anhu, berkata, “ Saya melihat 40 orang dari perang Badr dan mereka semua memakai wool.(Mereka semua memakai ‘suf’)
Jadi sufi adalah seseorang yang telah hilang-lenyap dalam pengertian ilmunya, dalam penglihatan tentang ketiadaan wujud dan Allah-lah yang Wujud. Dikarenakan mereka itulah orang yang merubah segala sesuatu. Mereka selalu dalam perubahan ini, inilah tahwil dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Hawla dalam bahasa arab juga berarti “mengelilingi”, dan Allah mengelilingi segalanya. Tidak ada bentuk selain Dia tapi meliputi di dalamnya. Dia meliputinya dengan wujud dan ketidakwujudannya. Karenanya ini adalah orang yang lain. Ini adalah orang yang mampu merubah dunia.
Allah membuat waktu ketika ‘arifin diambil. Dia membuat waktu ketika orang-orang yang berilmu pergi ke gurun, ke dalam Sahara, dan menghilang. Shaykh Moulay al-’Arabi ad-Darqawi berkata kepada Shaykh al-Huwari untuk pergi ke dalam gurun pasir dan menanam kurma yang manis. Dia menyembunyikannya kedalam gurun. Shaykh Muhammad ibn al-Habib, rahimahu’llah, menyembunyikan Sidi Muhammad ibn al-Qurshi di gurun, hingga tak kelihatan.
Ada waktu yang lain dimana para lelaki Allah bangkit untuk berjuang. Dan dia harus berjuang fisabili’llah, bukan jihad organisasi ini atau itu, atau kelompok ini atau kelompok itu, tapi ini dengan bendera dari Allah dan Rasul, salla’llahu ‘alayhi wa sallam. Inilah jihad dengan kemenangan. Semua jihad dan semua perjuangan dari bangsa Arab dalam jaman ini telah hancur karena mereka tidak mengangkat bendera dari Rasulullah, salla’llahu ‘alayhi wa sallam. Hari ketika kaum muslimin bergerak fi sabili’llah dengan ilmu ini:
“Masha’allah. La quwwata illa billah.”
Lalu mereka akan mendapat kemenangan.
Ini akan menjadi kemenangan kerenanya akan menjadi apa yang telah tertulis disekeliling kota oleh Murabitun:
“La ghaliba illa’allah.”
Tiada kemenangan kecuali Allah, ini ada pada tanganmu. Sekarang kamu harus melakukannya. Tapi jihad ini pertama tidak dengan pedang. Jihad pertama adalah kepada membersihkan segala sesuatu. Ada suatu masa dalam tassawuf ketika pelajaran dari Sufi adalah ‘ilm an-nafs, hawa, shaytan, untuk membersihkan hati. Pembersihan dari jaman ini bukan yang di dalam. Pembersihan jaman ini menjadikan bagian luar bersih. Untuk membuat perilaku yang bersih, membuat jalan bersih, membuat adab yang bersih. Untuk memisahkan musuh dari teman. Inilah pelajaran jaman ini. Inilah jihad an-nafs. Ini ketika pasar tidak haram, dan uangnya adalah halal. Itu pertukaran yang halal. Itu semua pertukaran dunia yang halal. Bagaiman kit dapat membuat hadrah dalam tempat yang kotor? Semuanya bersih. Sebelum shalat harus berwudhu’. Sebelum Hadra ar-Rabaniyya harus ada Sharia’ah Islam, tapi orang-orang yang hari ini mengatakan Shari’ah Islam tidak ingin membersihkannya juga.
Kenapa tidak bersih? Karena mereka tidak melakukannya dengan ilmu dari Masha’allah. Ketika mereka mengetahui ini adalah Masha’allah, bukan mereka yang melakukannya. Lalu mereka tidak akan mengatakan:
“Islam! Islam! Islam!
Mereka akan mengatakan: Allah! Allah! Allah! Inilah kebenaran dari jaman ini.
Orang-orang yang mengatakan: Islam! Islam! Islam! Memotong leher-leher anak muda.
Ketika kita mengatakan ‘Allah! Dan berjuang di jalan Allah, kita akan mendapat kemenangan fi sabili’llah, insha’allah.
Jadi kamu harus paham untuk membersihkan dari karaktermu kamu membutuhkan ilm an-nafs, suluk. Suluk himma hari ini. Suluk adalah himma pada masa dari Shaykh Ibn al-Mashish. Selalu mempunyai himma. Sekarang kadang-kadang satu arah dan kadang-kadang yang lain. Shaykh Moulay al-’Arabi ad-Darqawi berkata,” Setiap orang dalam muraqaba.”
Kekuatan adalah fisik dan kesejahteraan, dan dia berkata, “ Tidak, kamu adalah masakin.” Untuk membersihkan waktu.
Ketika Shaykh Muhammad ibn al-Habib, rahimahu’llah, tiba, orang yang luarbiasa ini berkata, “Muraqaba. Jallaba yang terbaik.”
Kenapa? Karena mereka ingin membunuh Ilmu ini. Lalu dia menyembunyikan para faqir dalam jallaba yang indah. Lalu hanya lelaki Allah berkata, “Tidak, tidak, ini bukan jallaba yang indah. Ini adalah rajulu’llah.”
Para musuh berkata,”Dimana para fuqara? Dimana para masakin?” ketika hendak membunuh mereka. Mereka semua orang-orang ini yang memakai jallaba mengatakan, “As-salamu’alaykum.”
Inilah sesuatu. Sekarang pada saat ini kamu harus meneruskan deen Islam. Kamu harus melindunginya dengan Qadi Iyad, dengan Imam Malik, dengan ilmu tentang Fiqh. Kamu harus melindungi hatimu dengan mengambil Masha’allah, la quwatta illa billah. Inilah dhikr dari orang-orang yang luarbiasa dan kamu harus memilikinya. Bukan hanya ringan dilidahmu, tapi dengan berat dan dengan kekaguman mendalam dan dengan keagungan dan kesadaran dari kekuatan dari Allah.
Kamu melihat bahasa dari orang-orang tassawuf para Sufi bergerak di antara qabd dan bast, di antara kesempitan dan keluasan. Dia diantara takut dan harap. Jika kamu bergerak diantara takut dan harap, kamu tidak akan berstrategi. Kamu tidak akan membuat strategi (pengaturan). Kamu akan mengatakan: “Masha’allah. La quwwata illa billah.”
Jika kamu menjadi orang-orang dari Ilmu ini, kamu dapat merubah seluruh dunia, jika kamu mengikuti ini, kamu dapat membuat seluruh dunia untuk anak laki-lakimu dan anak perempuanmu benar-benar jelas, benar-benar bersih. Inialah jalan dari Shaykh Muhammad ibn al-Habib rahimahu’llah. Jalan yang tidak berubah. Shaykh al-Fayturi, rahimahu’llah, berkata:
“Tariqa bukanlah wird atau wazifa atau silsila, tapi tariqa adalah marifatu’llah”
“Ma’rifatu’llah telah menempel dalam permata-berlian.
