Gagasan di Balik Toleransi

Gagasan di Balik Toleransi
Dari Esoteric Deviation In Islam, halaman 185
Oleh Umar Ibrahim Vadillo

Barangkali argumen mengenai penolakan penyatuan politik dan agama yang paling sering dipakai dan sangat dikenal adalah toleransi atau tanpa toleransi. Setiap pernyataan yang didasari oleh ilmu yang absolut mengenai kebenaran dan sesuatu yang benar adalah bentuk dari ketidaktoleranan. Toleransi memegang peranan penting untuk mencapai kondisi sinkretisme sosial. Arti tersembunyi dari toleransi beragama terletak pada perilaku umum yang diarahkan sebagai sesuatu yang dilindungi dan tidak diperbolehkan untuk diteliti secara cermat melalui debat dan pendapat masyarakat (tidak boleh disanggah dan ditolak). Melalui wacana ini diperkenalkanlah suatu pokok permasalahan mengenai hubungan minoritas atau mayoritas, dan penerimaan radikal terhadap perbedaan atau kenyataan mengenai perbedaan, yang mengizinkan komunitas-komunitas yang berbeda untuk hidup berdampingan. Sebuah agama baru haruslah toleran agar perbedaan yang ada dapat dilarutkan menjadi satu campuran kepalsuan dalam sebuah negara.

Dasar filosofis dari toleransi yang digunakan pada saat ini mengabaikan situasi struktural tertentu dimana individu tidak diberikan pilihan lain selain dari kemampuan untuk melakukan hal-hal tertentu yang terbatas. Pemaksaan terhadap individu ini diukur dengan menggunakan standar ganda; apakah hal ini dimengerti sebagai keadaan yang memaksa atau sebagai keadaan yang biasa saja. Apakah kemudian tindakan yang diambil dilakukan secara terpaksa atau secara suka rela, adalah suatu permasalahan yang berbeda. Yang menjadi pokok permasalahan adalah ketika seseorang, secara sadar, diwajibkan untuk melakukan suatu tindakan berdasarkan kondisi struktural dan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ini adalah wilayah kesadaran lain dalam sebuah metode kesadaran dimana seseorang melakukan hal yang dikerjakannya: apakah seseorang melakukan suatu tindakan yang diwajibkan kepadanya dengan rasa marah atau senang. Dengan kata lain, ketika merujuk kepada kebebasan eksistensial (keberadaan) individu, maka perbuatan lebih memiliki relevansi dibandingkan dengan prinsip dan ide. Dalam filosofi toleransi, kita dianjurkan untuk melihat kepada hal yang salah, atau kita akan dicegah untuk mengarahkan prinsip pemaksaan tersebut menjadi sesuatu aspek keseharian dalam kehidupan kita. Perbuatan bukanlah benda atau pun gagasan, perbuatan dinilai dari pelaksanaannya. Kehidupan terdiri dari sejumlah perbuatan yang tidak dapat digantikan oleh prinsip-prinsip dan gagasan atau ide. Toleransi yang diperkenalkan kepada kita adalah toleransi esoterik yang mengabaikan atau bahkan menghilangkan sama sekali arti penting dari sebuah tindakan/perilaku sebagai perwujudan dari kebebasan, toleransi esoterik lebih mendahulukan dan berpihak kepada prinsip dan gagasan yang sama sekali tercerabut dari kepentingan hidup yang sejati. Prinsip, gagasan dan keyakinan memiliki sifat esoteric, -esoterik, memiliki beberapa penjelasan, salah satunya adalah pola berpikir yang memiliki wilayah dalam, pola pikir yang lebih mengarah kepada pencarian prinsip-prinsip universal, untuk dapat memisahkan pemikiran umum dan pemikiran yang unik (Esoteric Deviation in Islam, halaman 60)- sedangkan tindakan atau perilaku diterjemahkan sebagai exoteric -esoterik, pola berpikir yang memiliki wilayah luar (Esoteric Deviation in Islam, halaman 60)…

Pendekatan sejati dan membebaskan mengenai arti dari kebebasan yang sesungguhnya harus mengarah kepada perbuatan atau tindakan (yang kita kenal sebagai ‘amal dalam bahasa Arab) dan kondisi-kondisi dimana kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan suatu perbuatan/tindakan mengalami proses pembentukan dan disusun. Imam al-Ghazali, seorang Sufi terkemuka, mengatakan bahwa ‘Ilm al-mu’amala mendahului ‘Ilm al-mukashafah, dengan kata lain pengetahuan mengenai perbuatan dan tindakan lebih diutamakan daripada pengetahuan mengenai hal-hal yang bersifat khusus atau tersembunyi (contohnya pemikiran, ide atau gagasan).

Mitos mengenai nasionalisme dan kemakmuran ekonomi mensyaratkan kepatuhan dari semua ekspresi ideologi yang ada. Contoh paling baik dari pernyataan ini adalah sistem perbankan. Simbol-simbol dan praktek sistem perbankan didukung penuh oleh segenap sendi masyarakat, termasuk di dalamnya adalah umat dari seluruh agama yang ada, dan ketika sikap ketidaktoleranan tidak dapat dihubungkan dengan pengambil alihan agunan secara paksa, sikap ketidaktoleranan dengan mudah dapat dihubungkan kepada siapa saja yang mencoba menderegulasikan (mengubah aturan) dan memprivatisasikan (swastanisasi) uang serta mengembalikan pilihan mengenai alat tukar kembali kepada masyarakat. Cara kita untuk beribadah kepada Allah dapat dipertanyakan (boleh diubah atas nama demokrasi dan toleransi), akan tetapi uang yang ada di dalam kantong kita menjadi sebuah dogma (ajaran agama yang kaku). Negara kebangsaan, perbankan, dan demokrasi menjadi semacam identitas diri yang tidak dapat dikritik.

Proses untuk merendahkan posisi Islam dibawah semua dogma keagamaan hanya dapat dilakukan baik dengan cara menindas Hukum Islam itu sendiri, atau dengan cara mengganti atau mengurangi atau menunda pelaksanaannya. Ketika ini terjadi, istilah-istilah seperti toleransi, modernisme, esoterisme dan messianisme (mahdisme, menurut pengertian kaum shiah) mendapatkan titik temunya. Barulah kemudian Islam dapat diterima, dalam artian, sejauh Islam dapat masuk ke dalam kerangka yang sejalan dengan satu norma yang telah dibentuk sebelumnya dalam suatu tatanan masyarakat. Di luar dari itu, akan mendapatkan label seseorang yang sakit jiwa, yang mengartikan pesan-pesan Islam secara literal atau menjadi suatu istilah yang umum saat ini, Islamisme. Hal yang paling tidak dapat diterima dalam Islam adalah adanya suatu kondisi dimana debat, perubahan dan penerimaan terhadap ide-ide lain tidak diperkenankan. Kebutuhan akan hadirnya perbedaan perndapat sangat penting bagi demokrasi itu sendiri. Islam berbeda dengan sebuah teori yang menjadi ukuran bagaimana seharusnya agama yang toleran itu: teori itu adalah deisme. aktek Deisme diasosiasikan dengan pemahaman mengenai gagasan keilahian, teks-teks suci dan prinsip moral secara umum, yang tidak memiliki hubungan dengan ‘ritual eksoteris’ (praktek ibadah yang bersifat fisik). Bukan merupakan hal yang kebetulan jika penulis ‘The Rights of Man’, yang menjadi inspirasi bagi hak asasi manusia, mengatakan: “Setiap orang, apapun agamanya, adalah seorang Deist yang merupakan tingkat pertama dari Imannya. Deisme, yang berasal dari kata Latin Deus-Tuhan, adalah kepercayaan kepada Tuhan, dan kepercayaan ini merupakan hal mendasar dari perwujudan iman seseorang”. Semua hal yang berada dalam lingkup model keagamaan ini dapat diterima, akan tetapi hal tersebut berada di luar lingkup model, maka hal tersebut dapat diperdebatkan dan dipertanyakan. Perdebatan disini ini memiliki arti bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting. Konsep moralitas baru dengan sangat memaksa menyatakan bahwa semua agama adalah sama dalam tatanan nilai-nilainya, sehingga dalam pelaksanaanya hal ini sama saja dengan menjadikan proses memilih dan menjalankan perintah agama sebagai suatu urusan yang esoteris (dalam hal ini artinya khusus, hanya dalam lingkup tertentu saja. Atau biasa kita kenal dengan ungkapan ‘Agama itu sifatnya pribadi’).

Toleransi juga menjadi alat untuk membentuk opini masyarakat, Ini hanya berlaku bagi ‘pihak lain’, dalam hal ini adalah umat Muslim. Hal ini digunakan untuk menundukkan semangat umat Muslim, seringkali digunakan untuk menyalahkan kita untuk suatu hal yang tidak di lakukan. Sebuah proses yang menggiring dunia untuk sampai ke tahap homogenitas kebudayaan dipacu oleh sistem ekonomi yang homogen, belum pernah sekalipun dianalisa dengan menggunakan prinsip toleransi atau ketidaktoleranan. Sebaliknya: hal apa pun yang berlawanan dengan sistem di atas langsung diberi cap ‘reaksioner’. Sebuah anggapan … model dari sebuah masyarakat yang dimana riba dan pajak bukan hanya diperbolehkan bahkan menjadi hal yang diperlukan, bahkan menjadi satu satunya tolok ukur yang dimana semua masyarakat dengan konsep toleran dinilai dan dibangun seharusnya mempertanyakan keabsahan serta hubungan dari gagasan mengenai toleransi secara menyeluruh. Tujuan akhir dari toleransi akan kehilangan integritasnya ketika diterapkan oleh umat Muslim. Gambaran mengenai ekonomi terpimpin dan politik yang hina ditambah dengan penyetujuan yang bersifat menghina terhadap pemusnahan etnis masal, sebagaimana kita saksikan di Algeria, Bosnia dan Turki, melawan partai-partai Islam demokratis yang mencoba bermain dengan menggunakan kaidah toleransi, menyingkapkan makna sewenang-wenang dari toleransi yang tidak lebih dari moralitas sehari hari belaka.

Apa artinya, kita bisa mempertanyakan hal ini, ‘kebebasan beragama’ ketika agama telah dikecilkan menjadi suatu kehampaan? Apa artinya menjadi seseorang yang memiliki ‘toleransi beragama’ jika pada setiap diri mereka telah ditanamkan sebuah sistem finansial dan sistem media yang tidak dapat diganggu gugat? Sebuah ujian serius bagi konsep toleransi adalah penolakan terhadap pajak yang didasari sepenuhnya olehr dasar-dasar agama. Seseorang mestinya dapat berkata: “Saya menolak untuk membayar pinjaman hipotek ini karena dasar dari kontrak perjanjiannya dianggap hampa dan batal menurut Hukum Islam, yang menyatakan bahwa seseorang hanya diwajibkan untuk membayar hutang sesuai dengan jumlahnya, dan bukan bunganya.” Allah berfirman dalam al Qur’an Karim:

Hai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba
jika kamu orang-orang yang beriman

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba),
maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.
Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba),
maka bagimulah pokok hartamu;
kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

(Qur’an, al Baqarah, 277-278)

Kita menemukan bukti bahwa sesungguhnya toleransi dan ketidaktoleranan tidak memiliki arti apa pun. Hal yang memiliki arti penting adalah jalan hidup kita, khususnya dalam lingkup perekonomian sehari-hari (bukan ekonomi akademisi yang didasari oleh angka-angka), yang ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih tinggi dari agama. Ini bukan berarti ekonomi memiliki posisi yang pasti secara ideologi. Malah justru sebaliknya, ekonomi merupakan pemikiran yang paling tidak masuk akal dibandingkan dengan bentuk pemikiran-pemikiran lainnya. Secara mudah ekonomi hanya menyatakan bahwa, di dunia yang terlahir dari Perang Dunia Kedua ini, tidak ada satu partai atau satu agama pun di dunia ini yang diperkenankan untuk mencanangkan, lebih-lebih lagi melaksanakan satu-satunya perang bagi masa depan: “Perbankan adalah riba, yang artinya adalah lembaga kejahatan dan harus diberantas.” Latar belakang inilah yang menjadi alasan bagi kita dalam menelaah esoterisme: Sebuah latar belakang yang dipenuhi oleh konspirasi hening di dunia ini, yang merubah jalan hidup, dan mengenai sekelompok orang ingkar yang mana Allah telah menyatakan perang terhadap mereka: riba dan para pelaku riba. Intinya adalah memisahkan hubungan kehidupan dengan tatanan etika agar seseorang individu dapat merasa nyaman ketika dirinya menyerah kepada secarik kertas perbankan yang merupakan bagian dari paganisme. Paham toleransi dan ketidaktoleranan adalah tabir pengalih perhatian esoteris yang menyembunyikan kejahatan yang sesungguhnya (riba).

Explore posts in the same categories: jarang tidur

Comment: