THEY ARE STILL A LEGEND! AND THE STORY GOES…

soekarno, soeharto

inalillahi wainailallahi rojiun, pak harto passed away
bagi saya 2 orang ini tetap legend dan termasuk soekarno! duo orang ini mempunyai leadership dan cinta kepada kawula jelata.

soekarno mengerti apa itu kapitalisme riba, soeharto memanfaatkan kapitalisme untuk ‘membangun’ indonesia. soeharto melihat apa itu demokrasi sehingga dia berusaha membendung demokrasi tapi dia tidak melihat apa kaitannya demokrasi dan perbankan riba. lepas dari kekurangan mereka, mereka memahami apa arti leadership. mereka bukan presiden, mereka adalah pemimpin, dan yang sesudah mereka hanya dagelan demokrasi!

sedangkan tukang politik seperti amien rais, gus-dur, dan badut ketoprak lainnya adalah aktor dan figuran dari film berjudul demokrasi untuk orang tolol! , pada tahun 1997 katanya reformasi dan demokrasi menang, mahasiswa bersorak, amin rais jual kecap, gus-dur jual kecap semua kecap nomor 1…kecap kecap! tetapi dibelakang layar film demokrasi untuk orang tolol ini ada skenario yang terus berjalan , yang kita rasakan kegetirannya hari ini setelah 11 tahun, adalah pembodohan umum yang luar biasa di nusantara dan pemiskinan sistematis akibat ketidak-mengertian orang-orang tolol yang mengusung demokrasi (pluralisme, persamaan) dan reformasi adalah sebuah ilusi pemakan riba. selamat untuk amin rais dengan kecap demokrasinya, demokrasi my ass! selamat gus dur dengan kecap pluralisme, pluralisme my ass! selamat untuk yang lain yang jadi bebek demokrasi dan isme-isme ngga penting lainnya. capee deehhh

(bagi yang mau baca apa kepalsuan demokrasi silahkan lihat link www.islamhariini.wordpress.com)

sampai ketemu pak harto dan pak karno, in the other side. you are the man!

Explore posts in the same categories: apakata orang! biarin

10 Comments on “THEY ARE STILL A LEGEND! AND THE STORY GOES…”

  1. asep garut Says:

    apa benar yang anda katakan bahwa kedua orang ini adalah pemimpin dan bukan presiden, kenapa anda bilang bahwa orang yang berusaha melakukan peerubahan adalah orang tolol, perubahan itu perlu walaupun kadang-kadang melakukan kesalahan, apalah artinya pemimpin yang memberdayakan masyarakat, namun akhirnya menyengsarakan rakyat,,,,, hutang adalah hutang, sesuatu yang harus di bayar, soeharto suka berhutang dan membebankan hutangnya kepada rakyat, sekian tahun dia memimpin tapi hanya bisa membangun dari uang pinjaman sehingga ,menciptkan regenaerasi yang suka ngeridit dan bukan menciptakan generasi mandiri, dan buktinya sekarang untuk mengurangi hutangnya, negara tercinta kita Indonesia harus menjual kekayaannya,,,,,pemimpin adalah orang yang bijak rela miskin dan rela kelaparan untuk rakyatnya,,,dan bukan tersenyum di atas penderitaan rakyat.Bangsa indonesia bangsa yang maju jika orang pintar seperti soeharto bisa menyalurkan kepintarannya, bukan memanfaatkan kebodohan rakyat, meminjam miliaran ke WHO dan yang di berikan ke masyarakat hanya sisa bunga pinjaman, Harta mereka melimpah tapi rakyat menangis…Yanfg terjadi saat ini yang kaya makin kaya, yang kuat yang berkuasa yang pintar membodohi yang belum mengerti, dan hal itu bukan pemimpin tapi pembohong:::::::::::::::

  2. asep garut Says:

    janganlah mencela namun harus berfikir untuk perbaikan, kita bangsa indonesia bangsa yang beradab, namun karena peminpin nya tidak bisa memegang amanah sehingga terjadi krisis kepercayaan. Karena Masyarakat Indonesia semakin pintar maka mereka terus berfikir dan akhirnya menjadi orang yang kritis. Perubahan adalah hal yang harus di lakukan jika nama pemimpin atau pejabat atau pahlawan itu hanya sebatas nama, Di Indonesia tidak ada orang yang rela menangis untuk rakyat, tidak ada orang yanmg mau lapar untuk rakyat, tidak ada orang yang rela mengorabankan keinginannya hanya untuk rakyat, setelah sejumlah uang berada di hadapan mereka dengan segala cobaan yang datang dari istrinya/suaminya, dari anaknya, saudaranya, bahakan orang yang di cintainya mereka rela berbuat sesuatu tanpa menghiraukan masyarakat yang tengah menangis karena kelaparan, tengah merintih karena kesakitan, tengah hancur harapannya karena hidupnya ternodai dan merasa hampa ketika cita-citanya hancur karena segenggam rupiah,,,,,, Pemimpin yang baik rela tidak punya rumah, rela tidak punya mobil, rela tidak punya tanah, Bukan kaya soeharto yang anaknya seorang konglomerat, bukan soekarno yang anaknya harum karena nama bapaknya. Pemimpin seperti itu hanya kamuplase,,,,namun mereka adalah orang yang berusaha menjadi pemimpin, pemimpin di dunia hanya satu yakni Nabi MUHAMMAD, dia rela tidur di bawah baun kurma, dia rela makan hanya satu biji kurma, dia rela memakai baju robek dan banyak jahitan, dia rela kehausan, sampai mati yang di pikirkan adalah umatnya, rakyatnya dan bukan anak-anaknya,,,,,,yang berjuang adalah proses perubahan menuju keingianan agar lebih baik…Soekarno dan sohaerto ataupun Bill klinton, Josh Bush dan Saddam husein adalah orang yang berusaha menjadi pemimpin dan belum menjadi PEMIMPIN,

  3. fuqara Says:

    ya itulah adab dan amal kita sebagai muslim telah diganti agama baru yaitu kapitalisme (memberlakukan sistem perbankan riba dan uang kertas tak bernilai dalam muamalat islam) dan demokrasi sebagai mesin perbankan untuk memporak-porandakan semua tatanan nilai kita sebagai muslim, slogan omong kosong dari demokrasi adalah suara tertinggi ditangan rakyat, adalah suatu kebohongan besar! tipuan kaum ateis-humanis! itu hanya kata-kata lisesensi untuk mempertuhankan diri mereka sendiri, dan siapapun yang berusaha menegakan kebenaran atas nama demokrasi ini adalah pembohong, karena sebagai muslim kita tahu bahwa: suara tertingi ada ditangan Allah dan mengikuti sunnah rasul-Nya :)

  4. Sepirok Says:

    Melihat kelebihan dan kekurangan tersebut…Sesungguhnya inilah Hukum Keseimbangan” saya takkan menilai Lebih atau Kurang..Namun Rasa Terimakasih Pada Para Pemimpin Bangsa” Bagus ataupun Tidak..saya telah merasakan Karya dan Bhaktinya”

  5. dani Says:

    benar-benar presiden yang luar biasa

  6. Dermawan Says:

    KILAS BALIK SEJARAH SOEHARTO

    Pada 12 Maret 1967, Jenderal Soeharto dilantik sebagai Presiden RI ke-2. Tiga bulan kemudian, dia membentuk Tim Ahli Ekonomi Kepresidenan yang terdiri dari Prof Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Ali Wardhana, Prof Dr. Moh. Sadli, Prof Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr. Subroto, Dr. Emil Salim, Drs. Frans Seda, dan Drs. Radius Prawiro. Seluruhnya pro kapitalisme.

    Nopember 1967, Suharto mengirim tim ekonomi ini ke Swiss menemui para CEO Yahudi Internasional. Lahirlah UU PMA 1967 yang sangat menguntungkan imperialis Barat. Prinsip kemandirian ekonomi Indonesia yang dijaga mati-matian Bung Karno, oleh Jenderal Suharto dihabisi dengan menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat tergantung pada Barat sebagai kekuatan kapitalis dunia.

    “Indonesia Baru” yang lebih pro-kapitalisme sesungguhnya telah dirancang sejak tahun-tahun 1950-an. David Ransom dalam artikelnya yang populer berjudul “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia: Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas AS Masuk ke Indonesia” (Ramparts, 1970) memaparkan jika AS menggunakan dua strategi untuk menaklukkan Indonesia, tentu saja dengan menyingkirkan Bung Karno. Pertama, membangun satu kelompok intelektuil yang berpikiran Barat. Dan kedua, membangun satu sel dalam tubuh ketentaraan yang siap bekerjasama dengan AS.

    Yang pertama didalangi oleh berbagai yayasan beasiswa seperti Ford Foundation dan Rockeffeler Foundation, juga berbagai universitas ternama AS seperti Berkeley, Harvard, Cornell, dan juga MIT. David Ransom menulis, dua tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), sebuah partai kecil yang berhaluan sosialis-kanan, yakni Soedjatmoko dan Sumitro Djojohadikusumo menjadi ujung tombak pembentukan jaringan intelektuil pro-Barat di Indonesia. Mereka, demikian Ransom, dibina oleh AS sejak akhir tahun 1949-an.

    Sedang tugas kedua dilimpahkan kepada CIA. Salah satu agennya bernama Guy Pauker yang bergabung dengan RAND Corporation mendekati sejumlah perwira tinggi lewat salah seorang yang dikatakan berhasil direkrut CIA, yakni Deputi Dan Seskoad Kol. Soewarto. Dan Intel Achmad Soekendro juga dikenal dekat dengan CIA. Lewat orang inilah, demikian Ransom, komplotan AS, mendekati militer. Suharto adalah murid dari Soewarto di Seskoad.

    Di Seskoad inilah para intelektuil binaan AS diberi kesempatan mengajar para perwira. Terbentuklah jalinan kerjasama antara sipil-militer yang pro-AS. Paska tragedi 1965 dan pembantaian rakyat Indonesia, yang dituduh komunis, dan kelompok ini mulai membangun ‘Indonesia Baru’. Para doktor ekonomi yang mendapat binaan dari Ford kembali ke Indonesia dan segera bergabung dengan kelompok ini, di antara Emil Salim.

    Jenderal Suharto membentuk ­Trium-Virat (pemerintahan bersama tiga kaki) dengan Adam Malik dan Sultan Hamengkubuwono IX. Ransom menulis, “Pada 12 April 1967, Sultan mengumumkan satu pernyataan politik yang amat penting yakni garis besar program ekonomi rejim baru itu yang menegaskan mereka akan membawa Indonesia kembali ke pangkuan Imperialis. Kebijakan tersebut ditulis oleh Widjojo dan Sadli.”

    Ransom melanjutkan, “Dalam merinci lebih lanjut program ekonomi yang baru saja di gariskan Sultan, para teknokrat dibimbing oleh AS. Saat Widjojo kebingungan menyusun program stabilisasi ekonomi, AID mendatangkan David Cole, ekonom Harvard yang baru saja membuat regulasi perbankan di Korea Selatan untuk membantu Widjojo. Sadli juga sama, meski sudah doktor, tapi masih memerlukan “bimbingan”. Menurut seorang pegawai Kedubes AS, “Sadli benar-benar tidak tahu bagaimana seharusnya membuat suatu regulasi Penanaman Modal Asing. Dia harus mendapatkan banyak dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

    Ini merupakan tahap awal dari program Rancangan Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) Suharto, yang disusun oleh para ekonom Indonesia didikan AS, yang masih secara langsung dimbing oleh para ekonom AS sendiri dengan kerjasama dari berbagai yayasan yang ada.

    Juni 1968, Jenderal Suharto secara diam-diam dan mendadak mengadakan reuni dengan orang-orang binaan Ford, yang dikenal sebagai “Mafia Berkeley” (untuk merancangkan susunan Kabinet Pembangunan dan badan-badan penting tingkat tinggi lainnya): sebagai Menteri Perdagangan ditunjuk Dekan FEUI Sumitro Djojohadikusumo (Doctor of Philosophy dari Rotterdam), Ketua BPPN ditunjuk Widjojo Nitisastro (Doctor of Philosophy Berkeley, 1961), Wakil Ketua BPN ditunjuk Emil Salim (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1964 ), Dirjen Pemasaran dan Perdagangan ditunjuk Subroto (Doctor of Philosophy dari Harvard, 1964), Menteri Keuangan ditunjuk Ali Wardhana (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1962), Ketua Team PMA Moh. Sadli (Master of Science, MIT, 1956), Sekjen Departemen Perindustrian ditunjuk Barli Halim (MBA Berkeley, 1959), sedang Sudjatmoko, penasehat Adam Malik, diangkat jadi Duta Besar di Washington, posisi kunci poros Jakarta-Washington.

    Tim ekonomi “Indonesia Baru” ini bekeja dengan arahan langsung dari Tim Studi Pembangunan Harvard (Development Advisory Service, DAS) yang dibiayai Ford Foundation. “Kita bekerja di belakang layar,” aku Wakil Direktur DAS Lister Gordon. AS segera memback-up penguasa baru ini dengan segenap daya sehingga stabilitas ekonomi Indonesia yang sengaja dirusak oleh AS pada masa sebelum 1965 bisa sedikit demi sedikit dipulihkan.

    Mereka inilah yang berada dibelakang Repelita yang mulai dijalankan pada awal 1969, dengan mengutamakan penanaman modal asing dan swasembada hasil pertanian. Dalam banyak kasus, pejabat birokrasi pusat mengandalkan pejabat militer di daerah-daerah untuk mengawasi kelancaran program Ford ini.

    Mereka bekerjasama dengan para tokoh daerah yang terdiri dari para tuan tanah dan pejabat administratif. Terbentuklah kelompok baru di daerah-daerah yang bekerja untuk memperkaya diri dan keluarganya. Mereka, kelompok pusat dan kelompok daerah, bersimbiosis-mutualisme. Mereka juga menindas para petani yang bekerja di lapangan.(bersambung/rd)

  7. Dermawan Says:

    Pasca Perang Dunia II, AS melihat Rusia sebagai satu-satunya pihak yang bisa menghalangi hegemoninya atas dunia. Diluncurkanlah Marshall Plan sebagai upaya membendung pengaruh komunisme yang kian lama kian meluas, dari Eropa Timur ke arah Asia selatan, sebuah wilayah yang sangat strategis dari sisi perdagangan dunia dan geopolitik, juga sangat kaya dengan sumber daya alam dan juga manusianya. AS sangat cemas jika wilayah tersebut dikuasai Soviet. Dari semua negeri di wilayah itu, Indonesia-lah negara yang paling strategis dan paling kaya. AS sangat paham akan hal ini, sebab itu di wilayah ini Indonesia merupakan satu-satunya wilayah yang disebut dalam Marshall Plan.

    Namun untuk menundukkan Indonesia, AS jelas kesulitan karena negeri ini tengah dipimpin oleh seorang yang sukar diatur, cerdas, dan licin. Dialah Bung Karno. Tiada jalan lain, orang ini harus ditumbangkan, dengan berbagai cara. Sejarah telah mencatat dengan baik bagaimana CIA ikut terlibat langsung berbagai pemberontakan terhadap kekuasaan Bung Karno. CIA juga membina kader-kadernya di bidang pendidikan (yang nantinya melahirkan Mafia Berkeley), mendekati dan menunggangi partai politik demi kepentingannya (antara lain lewat PSI), membina sel binaannya di ketentaraan (local army friend) dan sebagainya. Setelah berkali-kali gagal mendongkel Bung Karno dan bahkan sampai hendak membunuhnya, akhirnya pada paruh akhir 1965, Bung Karno berhasil disingkirkan.

    Setelah peristiwa 1 Oktober 1965, secara de facto, Jenderal Suharto mengendalikan negeri ini. Pekan ketiga sampai dengan awal 1966, Jenderal Suharto menugaskan para kaki tangannya membantai mungkin jumlahnya mencapai jutaan orang. Mereka yang dibunuh adalah orang-orang yag dituduh kader atau simpatisan komunis (PKI), tanpa melewati proses pengadilan yang fair. Media internasional bungkam terhadap kejahatan kemanusiaan yang melebihi kejahatan rezim Polpot di Kamboja ini, karena memang AS sangat diuntungkan.

    Jatuhnya Bung Karno dan naiknya Jenderal Suharto dirayakan dengan penuh suka cita oleh Washington. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Satu negeri dengan wilayah yang sangat strategis, kaya raya dengan sumber daya alam, segenap bahan tambang, dan sebagainya ini telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat akan dijadikan ‘sapi perahan’ bagi kejayaan imperialisme Barat.

    Benar saja, Nopember 1967, Jenderal Suharto menugaskan satu tim ekonom pro-AS menemui para ‘bos’ Yahudi Internasional di Swiss. Disertasi Doktoral Brad Sampson, dari Northwestern University AS menelusuri fakta sejarah Indonesia di awal Orde Baru. Prof. Jeffrey Winters diangkat sebagai promotornya. Indonesianis asal Australia, John Pilger dalam The New Rulers of The World, mengutip Sampson dan menulis:

    “Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-bagi. The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi pengambil-alihan Indonesia.

    Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya.”

    Di seberang meja, duduk orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller dan pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia yang korup’.

    “Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The Berkeley Mafia’ karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.”

    Masih dalam kutipan John Pilger, “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi sektor.” Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler.”

    “Mereka membaginya dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar satunya, perbankan dan keuangan di kamar yang lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, mengatakan, ‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini, ini, dan ini.’ Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat menguntungkan mereka. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.”

    Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat.

    Lanjutan Soeharto

    Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan terburu-buru disodorkan kepada Presiden Soeharto membuat perampokan negara yang direstui pemerintah itu bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Oleh Suharto, rakyat dijejali dengan propaganda pembangunan, Pancasila, dan trickle down effect terhadap peningkatan kesejahteraannya, tapi fakta yang terjadi di lapangan sesungguhnya adalah proses pemiskinan bangsa secara sistematis yang dilakukan rezim Suharto.(bersambung/rd)

  8. Dermawan Says:

    jangan bangga dengan usaha di bawah kepemimpinan soeharto

  9. Dermawan Says:

    Tragedi Aceh, Tanjung Priok, Lampung, hanyalah sebagian kecil kejahatan kemanusiaan yang dilakukan penguasa rezim Suharto terhadap umat Islam. Belum lagi tragedi lainnya yang tidak kalah mengerikan seperti yang ditimpakan pada rakyat Timor-Timur, Papua, Kedungombo, dan sebagainya.

    Seperti kata orang bijak, kehidupan ibarat roda yangberputar. Maka ada saat naik, ada pula saat turun. Demikian juga dengan kekuasaan Jenderal Suharto. Rezim yang lahir dari genangan darah jutaan rakyatnya ini dengan dukungan penuh dari blok imperialis dan kolonialis Barat, mengalami “masa keemasan” di akhir tahun 1960-an hingga semester kedua tahun 1990-an. Selama hampir sepertiga abad, Jenderal Suharto menjadi presiden dengan kekuasaan nyaris absolut bagaikan raja atau pun diktator. Siapa pun yang berani berseberangan keyakinan dan pandapat dengannya, walau ia bekas teman paling setia pun, pasti akan disingkirkan.

    Di masa awal kekuasaannya, rezim ini menggadaikan kekayaan alam bangsa yang sedemikian besar kepada jaringan korporasi Yahudi sekaligus merancang cetak biru perundang-undangan penanaman modal asing Indonesia di Swiss (1967). Langkah ini diikuti dengan “stabilisasi” perekonomian dan politik di dalam negeri, dengan campur tangan penuh kekuatan imperialis dan kolonialis dunia seperti Amerika Serikat dan Jepang.

    Terhadap dakwah Islam, rezim Jenderal Suharto bersikap sangat keras. Walau di awal naiknya kekuasaan umat Islam sempat digandeng dengan mesra, namun setelah berkuasa, umat Islam ditendang keluar dari pusat kekuasaan. Dakwah Islam menjadi barang haram dan bahkan menjadi sasaran operasi intelijen di bawah komando Jenderal Ali Moertopo hingga Jenderal Leonardus Benny Moerdhani.

    Sepanjang tahun 1970-an, rezim Jenderal Suharto menikmati masa kejayaan dan kemakmuran dengan ‘Oil Booming’nya. Di sisi lain, korupsi, kolusi, dan nepotisme juga tumbuh dengan sangat subur. Cendana menjadi pusat dari peredaran keuangan di negeri ini. Dan banyak orang yang haus kekuasaan dan juga kekayaan secara gerilya maupun terang-terangan merapat ke Cendana.

    Pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, seiring perubahan kepentingan politis Amerika Serikat, di mana era perang dingin sudah bisa dikatakan berakhir dengan tumbangnya Uni Soviet dan imperium komunis di Eropa Timur, maka berubah pula orientasi politis dari rezim Jenderal Suharto. Walau demikian ‘stabilitas politik dan ekonomi’ serta ‘Pancasila’ masih menjadi tuhan yang tidak boleh diganggu gugat.

    Dakwah Islam yang sudah puluhan tahun ditindas dengan amat represif, perlahan-lahan simpulnya dikendurkan oleh Suharto. Banyak kalangan menyebut Suharto sudah bertobat dan akan khusnul khotimah. Atribut-atribut keislaman seperti peci putih, sorban, dan jubah mulai dikenakan oleh Jenderal yang tangannya berlumuran darah jutaan rakyatnya ini. Jilbab secara perlahan juga mulai berkibaran di seantero negeri. Tokoh-tokoh Islam dengan cepat dan—maaf—sedikit gegabah, menyebut hal ini sebagai kebangkitan Islam di Indonesia, padahal baru sebatas kulit luarnya saja. Sedangkan ‘tradisi’ KKN tetap dilestarikan bahkan sekarang sudah mengalami inovasi yang sangat luar biasa. Ke masjid sering namun tetap saja gila memburu proyek-proyek yang sarat dengan mark-up anggaran dan sebagainya.

    Yoshihara Kunio, yang meneliti hubungan bisnis dan politik kekuasaan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menerbitkan bukunya yang akhirnya dilarang beredar oleh Suharto. Buku tersebut berjudul “Kapitalisme Semu Asia Tenggara”. Untuk Indonesia, Kunio menyatakan jika pondasi perekonomian bangsa ini sebenarnya sangat rapuh karena dibangun berdasarkan praktik KKN semata, sedangkan para pengusaha kecil-menengah yang lokal nyaris hidup sendiri tanpa adanya suatu proteksi atau pun perlindungan khusus dari pemerintah. Akibatnya, kian hari kian banyak perusahaan lokal yang dicaplok oleh korporasi asing.

    Sebab itu, ketika tepat 100 tahun gerakan Zionisme Internasional merayakan kelahirannya, dan salah seorang pengusaha Yahudi dunia bernama George Soros memborong mata uang dollar AS dari pasar uang dunia, maka meletuslah krisis keuangan yang berawal dari Thailand dan terus merembet ke Indonesia. Harga membubung tinggi dan banyak pengusaha hasil KKN ambruk. Jahatnya, para konglomerat kakap yang amat dekat dengan Cendana malah melarikan diri ke luar negeri dengan membawa uang rakyat Indonesia dengan nilai yang amat sangat banyak. Uang hasil BLBI yang jumlahnya ratusan triliun rupiah dijarah dan tidak pernah dikembalikan hingga detik ini. Indonesia meluncur pasti menuju kebinasaan.

    Dari berbagai tekanan yang dilakukan mahasiswa, sejumlah pejabat, dan pastinya juga Washington, Presiden Suharto akhirnya lengser pada Mei 1998.

    Euphoria gerakan reformasi meledak. Habibie jadi presiden, diganti Abdurrahman Wahid, lalu Megawati, dan kemudian Susilo Bambang Yudhoyono. Gerakan reformasi sudah berusia sepuluh tahun lebih, namun di lapangan, praktik-praktik peninggalan rezim Suharto, yaitu KKN ternyata bukan berkurang namun malah tambah marak dan inovatif dengan berbagai dalih dan hujjah.

    Malah sejumlah tokoh yang mengaku reformis, dari yang sekuler sampai yang katanya fundamentalis, kini nyata-nyata mendekati Cendana kembali yang memang masih memiliki kekayaan materil yang luar biasa. Mereka beramai-ramai mengangkat Suharto sebagai orang yang patut diteladani dan bahkan dikatakan sebagai Guru Bangsa. Panglima besar KKN malah dijadikan Guru Bangsa. Ini merupakan sesuatu yang “amat hebat dan sungguh fantastis”.

    Hal ini membuktikan kepada kita semua betapa gerakan reformasi tenyata telah gagal total. Para Suhartois masih kuat bercokol di negeri ini. Hari-hari menjelang Pemilu 2009 ini kita bisa melihat dengan mudah siapa saja orang-orang Indonesia, baik itu yang sekular maupun yang mengklaim sebagai reformis, yang sesungguhnya Suhartois. Mereka membuka topengnya lewat iklan, lewat manuver politik, dan sebagainya.

    Padahal, demi menegakkan keadilan, Suharto selayaknya diadili di muka pengadilan. Suharto adalah Jenderal Augusto Pinochet-nya Chille, Jenderal Lon Nol-nya Kamboja, yang harus tetap mempertanggungjawabkan segala apa yang pernah diperbuatnya selama puluhan tahun di depan pengadilan yang sungguh-sungguh menegakkan keadilan. Bukan malah dijadikan ikon bagi perubahan.

    Untuk menutup serial ini, ada baiknya kita mencamkan satu ayat Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 70 tentang kaum yang mempermainkan agamanya demi kenikmatan kehidupan dunia. Allah SWT berfirman:

    “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan al-Qur’an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa’at selain daripada Allah…” (Tamat/rd)

  10. Dermawan Says:

    Berikut sekelumit data mengenai Soeharto yang saya baca dan kutip dari Kepustakaan Presiden Republik Indonesia dan arsip artikel Yayasan-Yayasan Soeharto oleh George Jujus Aditjondro (tempo, Jum’at, 14 Mei 2004).

    Selamat menikmati dan terkejut ! Kalau masih kurang, silahkan baca sendiri artikel aslinya. Dijamin lebih dari puas, bahkan pasti cape deeeech.

    Nama : Soeharto
    Tempat, tanggal lahir : Kemusuk-Yogyakarta, 8 Juni 1921
    Nama Ayah : Kertosudiro
    Nama Ibu : Sukirah
    Nama Istri : Siti Hartinah (Ibu Tien)
    Nama Putra dan Putri :
    1. Siti Hardiyanti Hastuti (Mbak Tutut)
    2. Sigit Harjojudanto
    3. Bambang Trihatmodjo
    4. Siti Hediati Herijadi
    5. Hutomo Mandala Putra (Tommy)
    6. Siti Hutami Endang Adiningsih

    Karir Militer dan Politik :
    1. Sersan Tentara KNIL
    2. Komandan PETA
    3. Komandan Resimen – Pangkat Mayor
    4. Komandan Batalyon – Letnan Kolonel
    5. Pengawal Panglima Besar Sudirman
    6. Panglima Mandala (Pembebasan Irian Barat)
    7. Panglima Angkatan Darat
    8. Pangkopkamtib
    9. Presidan RI ( Maret 1968 – 21 Mei 1998)

    Berikut nama sejumlah yayasan (ditulis Y.) dan lembaga terkait dengan Soeharto.

    Yayasan yang diketuai Soeharto (Total 12 yayasan) :
    Y. Supersemar
    Y. Dharma Bhakti Sosial (Dharmais)
    Y. Dana Abadi Karya Bakti (Dakab);
    Y. Amal Bhakti Muslim Pancasila
    Y. Serangan Umum 1 Maret
    Y. Bantuan Beasiswa Jatim Piatu Tri Komando (Trikora)
    Y. Dwikora
    Y. Seroja
    Y. Nusantara Indah
    Y. Dharma Kusuma
    Y. Purna Bhakti Pertiwi
    Y. Dana Sejahtera Mandiri

    Yayasan yang diketuai Ibu Tien Soeharto (Total 4) :

    Y. Harapan Kita
    Y. Kartika Chandra
    Y. Kartika Djaja
    Y. Dana Gotong Royong Kemanusiaan

    Yayasan yang dikuasai secara tidak langsung oleh Soeharto- melalui Bob Hasan sebagai Pres.Komisaris PT. Astra International, Inc. (Total 4 Yayasan) :

    Toyota Astra Foundation
    Y.Astra Dharma Bhakti
    Y.Dana Bantuan Astra
    Y.Dharma Satya Nusantara

    Yayasan yang dikuasai secara tidak langsung oleh Soeharto- melalui B.J. Habibie (sebagai Ketua ICMI) :

    Y.Abdi Bangsa;

    Yayasan yang dikelola oleh Anak dan Cucu Soeharto (Total 12) :

    Y. Tiara Indonesia
    Y. Dharma Setia
    Y. Pendidikan Tinggi di Dili [Tutut]
    Y. Bhakti Nusantara Indah/Yayasan Tiara Putra [Tutut - Halimah (Istri Bambang)
    Y. Bimantara [Bambang Trihatmojo]
    Y. Bhakti Putra Bangsa
    Y. IMI (Ikatan Motoris Indonesia) Lampung
    Y. Badan Intelejen ABRI (BIA) [Mayjen Prabowo]
    Y. Veteran Integrasi Timor Timur
    Y. Hati
    Y. Pemilik Objek Wisata Tmn.Buah Mekarsari [Siti Hutami]
    Y. Bunga Nusantara [Ny.Christine Arifin]

    Yayasan yang dikelola oleh besan dan rekanan Soeharto (Total 5 Yayasan) :

    Y. Tri Guna Bhakti
    Y. Pembangunan Jawa Barat
    Y. 17 Agustus 1945
    Y. pendidikan Triguna
    Y. Balai Indah

    Daftar perusahaan yang sahamnya terkait yayasan Soeharto [ Yayasan Dakab-Dharmais-Supersemar] (Total 19) :

    Majalah Gatra
    Bank Duta
    Bank WIndu Kentjana
    Bank Umum Nasional (BUN)
    Bank Bukopin
    Bank Umum Tugu
    Bank Muamalat Indonesia (BMI)
    PT Multi Nitroma Kimia
    PT Indocement Tunggal Prakarsa
    PT Nusantara Ampera Bakti (Nusamba)
    PT Teh Nusamba
    PT Gunung Madu Plantations
    PT Gula Putih Mataram
    PT Werkudara Sakti
    PT Wahana Wirawan Wisma Wirawan
    PT Fendi Indah PT Kabelindo Murni
    PT Kalhold Utama
    PT Kertas Kraft Aceh
    PT Kiani

    Daftar perusahaan yang sahamnya terkait yayasan Soeharto [Yayasan Harapan Kita-Trikora] (Total 14)

    RS Harapan Kita
    PT Bogasari Flour Mills
    PT Bank Windu Kencana
    PT Kalhold Utama
    PT Fatex Tory
    PT Gula Putih Mataram
    PT Gunung Madu Plantation
    PT Hanurata
    PT Harapan Insani
    PT Kartika Chandra
    PT Kartika Tama
    PT Marga Bima Sakti
    PT Rimba Segara Lines
    PT Santi Murni Plywood

    Taksiran nilai total kekayaan Soeharto dkk.

    Sulit ditaksir secara pasti akan tetapi berikut beberapa taksiran yang pernah ada (padahal angka ini sudah lama, entah berapa sekarang) :
    40 Miliyar USD (Newsweek, 26 Januari 1998) ;
    15 Juta USD (Tesis Ph.D. Jeffrey Winters tahun 1991)

    Saya yakin jika hanya Kejaksaan Agung dan Pemerintah saja yang berjuang, masalah kekayaan Soeharto tidak akan — mendekati — selesai. Ini semua butuh bantuan dari semua pihak untuk menyelesaikannya.

    Indonesia is needing you ….
    where are you?
    Would you help your country ?
    Let’s help our country !!!!

    Entry Filed under: Politik. Tags: Indonesia, Politik, Soeharto.


Comment: