Aku Cinta Kau Dan Dia!…kayaknya pernah denger deh

Posted October 20, 2007 by fuqara
Categories: around us

Tags: , ,

poligami.jpg

poligami: berbagi suami katanya temenku
hari ini banyak orang-orang membicarakan cinta, grup musik menyanyikan lagu cinta adapula yang mengambil bait-bait tulisan kaum sufi melantunkan pula lagu tentang cinta, cinta kambuhan! jatuh cinta…saya cinta kamu kata seorang laki-laki, besok bilang saya benci kamu kata seorang wanita…lalu mau pisah, cerai, jadi kasar, apa betul kamu punya cinta!.kemana cintanya….jangan-jangan cinta palsu…hhmm manusia..selalu melihat bungkus. bisa banyak bicara cinta tapi kehilangan makna. all you need is love..cinta sejati. Read the rest of this post »

gold coin called dinar!

Posted October 15, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Tags: , ,

dinar

Uang Dinar Emas dan kita muslim!
telah dicetak dan beredar kembali sejak tahun 2000 di nusantara, kembalinya dinar-dirham (koin emas dan perak) menandakan kembalinya seluruh muamalat islam (bukan bank shariah!) dan kebangkitan kaum muslim di manapun, dibalik dinar ada syariat muslim (cara hidup yang berlandaskan hukum-hukum Allah yang universal) yang akan terjadi pemisahan alami terlihat terhadap sesiapa yang muslim, terlihat terhadap sesiapa yang munafik dan terlihat terhadap sesiapa yang kafir, semua akan terihat jelas! termasuk kebohongan bank shariah setan! , kembalinya dinar menandakan berakhirnya era kapitalisme (atheis-humanis), kembalinya dinar artinya menegakan hukum zakat mal kita sebagaimana mestinya ketika di madinah (zakat kita rubuh karena keuangan riba). mari kita tegakkan yang Haqq dan yang batil pastilah menyingkir. ISLAM adalah suatu kebenaranya nyata! kita tidak bisa terus hidup dalam kebohongan dan ketidak jujuran dalam muamalat kita karena itu bukan cara kita muslim. MARI BERUBAH! hari ini! sekarang, saat ini! amin

Innalillahi wa innailaihi rojiun! jum’at 29 ramadhan 1428H. Asril bin Boerhanuddin SH bin achmad datuk tumenggung bin Imam Bonjol bin Syarif Bayanuddin

Posted October 12, 2007 by fuqara
Categories: melihat kedalam!

my-father_day.jpg

penguburan_01.jpg

penguburan_02.jpg

pengurburan_03.jpg

Innalillahi wa innailaihi rojiun..al-Fatihah..

Telah berpulang ke Rahmatullah Asril bin Boerhanuddin SH bin achmad datuk tumenggung bin Imam Bonjol bin Syarif Bayanuddin, dalam usia 72 tahun, suami, ayahanda, adik, paman dan kakek kami tercinta, lahir di Payakumbuh, 19 April 1935 – wafat di Jakarta kamis menjelang Jum’at, 11 Oktober 2007, jam 15.50, dikuburkan setelah shalat jum’at, –hanya Allah yang mengatur– beliau dishalati oleh kurang lebih dari 200 orang yang hadir shalat jumat hari itu, alhamdulillah! Read the rest of this post »

Kita perlu Sultan dan Amir! Bukan Politikus busuk!

Posted October 6, 2007 by fuqara
Categories: melihat kedalam!

the-meaning_bw.jpg

Sultan Jogyakarta sebaiknya tidak mencalonkan diri menjadi presiden ataupun wakil presiden, Kedudukan Sultan dalam sistem politik islam secara natural adalah lebih tinggi dari badut-badut politik demokrasi, badut-badut HAM, badut pluralisme ataupun badut humanisme ini. Read the rest of this post »

The Amir (an introduction)

Posted September 27, 2007 by fuqara
Categories: melihat kedalam!

basic_research.jpg

mudah-mudahan tulisan The Amir dari Shaykh Dr Abdalqadir As-Sufi ini cukup jelas dan berguna sebagai pengantar tentang kehidupan apa yang tengah kita hadapi sebagai muslim dan kejadian-kejadian yang tengah berlangsung saat ini. Read the rest of this post »

ALL YOU NEED IS LOVE..LOVE..LOVE.. LOVE IS ALL YOU NEED

Posted September 26, 2007 by fuqara
Categories: melihat kedalam!

bunga-merah.jpg

Seluruh alam semesta diciptakan untuk cinta. Manusia adalah yang paling mampu melakukannya. Bila kita memiliki batu di dalam rumah dan kita sangat menyukainya, batu itu tidak akan menyadari cinta kita sejauh yang disadari oleh tumbuh-tumbuhan. Bila kita memiliki sebuah tanaman dan kita memeliharanya dengan rasa sayang, ia akan bereaksi dan akan tumbuh. Hewan dapat merasakan kasih sayang. Bila kita memelihara hewan di rumah, mereka akan lebih banyak merasakan cinta dan perhatian! Hewan piaraan pada waktunya akan menjadi pengasih seperti anggota keluarga. Read the rest of this post »

imac 2007! SOLID ROCK!

Posted September 22, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Tags:

imac

IMAC 2007
saya tadinya ngga tertarik pake imac yang baru…tapi setelah beli dan pakai…its solid-rock computer! dengan spek yang bagus untuk entry-level, stabil untuk CS3 dan aplikasi desain lainnya..recomended deh untuk designer grafis dan multimedia designer (termasuk web) ilife08nya ngga tahan deuhh…enjoy!

PBB Memang agen kapitalis-ribawi! BANK!

Posted September 19, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Tags: ,

heran juga baca tulisan dikompas dengan judul PBB Nyatakan Suharto Sebagai Pencuri Nomor Satu, wakakaka ini lucu bukannya pemerintahan amerika yang secara gotong-royong curi emas di irian (lewat korporasi internasional yang dibelakangnya adalah oligarki kapitalis hehehe something fishy going on), apa coba PBB ngurusin harta kekayaan soeharto, udah kurang kerjaan ya PBB! udah indonesia, malaysia dan semua negari muslim pada keluar deh dari PBB…ngga ada gunanya. organisasi ini dasarnya bukan la illaha illah muhammad rasulullah! jadi gimana mau ngerti keadilan dan kejujuran…

diluar kasus suharto ini perlu di ingat adalah seharusnya pemimpin kita saat ini sadar bahwa PPB itu ngga perlu diikuti, oraganisasi ini cuman dijadikan perpanjangan tangan dari ‘administrasi amerika’ untuk memaksakan suatu nilai-nilai anti tuhan yang berlawanan dengan Islam (baca juga esoteric deviation in islam dari Prof Umar Ibrahim Vadillo), PBB hanya lah kancungnya kapitalis (oligarki keuangan) yang menjadi agen untuk menentukan ini baik dan buruk menurut nilai absurd mereka, GO TO HELL PBB! GO TO HELL WITH YOUR AID…BANK DUNIA dan bank lainnya ITU RENTENIR yang bikin susah masyarakat muslim dan semua orang…sudah saatnya orang islam sadar ini! ALLAH MAHA KUAT…semua ini ilusi! ilusi demokrasi!

iPhone full unlock! CONFIRM

Posted September 3, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Tags:

CONFIRM!
akhirnya confirm unlock full! bagi teman-teman yang punya iPhone dan pengen di unlock full, silahkan kontak saya, bisa untuk semua operator GSM. tunggu apa lagi buang aja blackberiberi-nya wakakaka..tunggu tanggal mainnya –push .mac—

catatan: tanda indosat (IND) sudah ada karena photo ini diambil dengan kamera macbbookpro.

pengalaman user apple di indonesia!

Posted August 28, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

sharing pengguna apple di jakarta.
saya sebagai pengguna apple di indonesia walaupun belum terlalu lama, sejak tahun 1990an, sekarang ini agak prihatin dengan para penjual apple saat ini terutama reseller kambuhan yang tidak bertanggung-jawab dengan barang dagangannya, pernah temen saya baru beli macbookpro dengan salah satu reseller apple, terus ada masalah macbookpronya eh orang yang jualnya bukannya rajin ngontak malah kita yang harus ingetin, mereka cuman rajin kalo pas nagih duit, kalau sudah lunas ya kalau bisa mereka ngga mau ada urusan lagi sama kita… wakakaka gila benerr…

kayak ngga niat jualan padahal barang yang dijual ngga murah…tapi servicenya bener-bener buruk dan cenderung belagu…hehehe biasa emang namanya juga kambuhan, diteleponin susah…dan bukannya ada kesadaran bahwa ada pelanggan yang perlu. malah gayanya kalau elo yang perlu elo yang cari…justru kita yang harus sabar. ini sekilas pengalaman pengguna apple dengan penjual apple kambuhan di jakarta. jadi hati-hati kalau mau beli apple baru di jakarta (kalau luar jakarta lebih parah)

sebagai pengguna apple kita beli membeli barang yang bergaransi yang kadang kita tidak membeli dari authorised dealer resmi, kadang kita membeli dari reseller kambuhan, tapi karena ulah beberapa oknum reseller kambuhan yang arogan ( kalau penjual ini dikomplain karena ada masalah dengan barang dagangan yang kita beli dari mereka, kadang mereka menjadi tidak sopan dan ngga tahu diri dengan kelakuan yang norak dan minta dihajar….padahal mereka hidup dari pengguna apple dan komunitas) rata-rata penjual apple kambuhan ini mengambil barang dari gold distributor dan jarang sekali mempunyai stok barang ataupun services yang baik, saya tidak bilang semua penjual apple kambuhan ini kurang baik, ada juga satu atau dua penjual ini yang memang mempunyai atitude berdagang yang baik dan profesional.

untuk teman-teman yang punya apple terutama yang beli second dan suatu saat mengalami masalah dengan applenya lebih baik datang ke tempat-tempat apple resmi, karena paling ngga mereka tahu yang mereka jual dan bagaimana bersikap.

catatan: jika ada kekurangan dalam tulisan ini silahkan tambahkan pada comment di blog ini dan ceritakan pengalaman anda dengan pedagang apple supaya kita pengguna apple bisa mendapat service yang lebih baik…kalau perlu kita boikot pedagang yang tidak bertanggungjawab dan belagu.

DEMOKRASI! its a fishy business for a fishy people

Posted August 17, 2007 by fuqara
Categories: around us

Tags:

enjoy.jpg

MASIH MAU PERCAYA CARA HIDUP DEMOKRASI!
memang masih banyak yang berebut pengen jadi mentri, birokrat, pegawai negeri di jaman riba ini kalau perlu bayar, janji-janji kampanye ini dan itu. kenapa?, apa mereka memang ingin menjalankan perintah Allah dan mengikuti contoh Rasulullah dalam memimpin masyrakat? tentu tidak! di jakarta diperkirakan ada 12juta orang penduduk yang kalau dilihat data pemilih maka total pemilih kurang lebih adalah 3,7 juta orang atau kurang lebih 30% dari jumlah penduduk jakarta Read the rest of this post »

still! unlock in progress!

Posted July 22, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

unlock iPhone!

Posted July 22, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur


duren and apple iPhone

udah unlock semuanya kecuali SIM card GSMnya belum deh hik..work in progress to unlock SIM card…

60 TAHUN FSRD ITB (THE NEXT STEP)

Posted July 1, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

fsrd.jpg

FSRD-ITB 60 tahun (08/2007)
so…whats next? sudah saatnya metodologi berpikirnya berubah dan meninggalkan pola plato, aristoteles dan meloncat ke heidegger lalu ke berfikir kreatif abad ini..ISLAM adalah jawabannya. beberapa waktu lalu saya berbicara dengan beberapa orang birokrat FSRD (Fakultas Senirupa dan Desain)…sebagai alaumni saya mengusulkan kita perlu membuat dan merubah pola pikir ITB yang secara umum kering dan terpenjara oleh ke ‘ilmiahan’ sains model barat dalam hal ini FSRD ITB juga ada di dalamnya…yang pencapaian model berpikir sains barat yang pada ujungnya hanya berhenti pada la illa (tidak ada tuhan)…ini sebuah filsafat di belakangnya. usul ini mungkin sudah pernah juga terpikir dan di usulkan oleh dosen atau alumni FSRD-ITB untuk kalau perlu FSRD memisahkan diri saja dari ITB kalau terbentur dengan aturan ITB yang tidak kondusif dan tidak bisa melompat lebih jauh, jangan hanya jadi pabrik…FSRD perlu mencetak para pemikir dan pejuang yang tangguh dilapangan, bukan hanya jadi budak-budak upahan di advertising dan kantor-kantor. kita bukan mesin (kita tidak berpikir mekanis, kita punya hati….hati yang berdzikir…itu sesuatu yang dahsyat, kalau saja kamu tahu itu..) jadi tunggu apa lagi! orang-orang FSRD-ITB seluruhnya harus berubah dan mau berubah. kondisi yang nyaman tempat yang bagus tidak menjamin apa-apa selain sebuah ketakutan untuk melompat!

SAINS TIDAK BERPIKIR – PANDANGAN MARTIN HEIDEGGER

Posted June 2, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Jakarta 2/06/07

Di ambil dari heidegger for muslim dari kuliah sidi umar vadillo di dallas college – afrika selatan…sekali lagi ini perlu dibaca oleh generasi muda islam untuk memahami apa yang tengah terjadi dan bagaimana jalan keluarnya untuk kita semua…

SAINS TIDAK BERPIKIR
Cara berpikir kita hari ini yang biasa kita gunakan adalah buta terhadap perkara mendasar, suatu persoalan yang luput dari kita karena cara berpikir kita, dan kebutaan ‘cara berpikir kita’ ini ialah terhadap unsur sejati berpikir: kebenaran.

unsur sejati berpikir adalah kebenaran. Berpikir ilmiah yang berakar dari filsafat, buta terhadap kebenaran. Cara berpikir ilmiah ini hanya dapat mencari tahu tentang esensi kebenaran tapi bukan kebenaran, dan apa itu esensi kebenaran dalam filsafat, ialah hasil pencaritahuan melalui serangkaian pertanyaan apa? Dimana? Bagaimana? Inilah yang disebut heidegger sebagai berpikir esensial (esensialisme), yang samasekali berbeda dengan berpikir.

Heidegger mengatakan bahwa sains tidak berpikir, dia hanya “berkaitan dengan berpikir” “gaya” pikir seperti hanya berguna sejauh kita menyadari adanya jurang pemisah antara antara berpikir dan “ berkaitan dengan berpikir” tersebut, jadi yang di maksud adalah cara berpikir sains merupakan satu cara yang amat terbatas, bukan karena adanya pembatasan yang dilakukan oleh setiap bidang pemikiran tetapi didasarkan pada cara berpikir itu sendiri (tidak peduli tentang apa yang dipikirkannya itu)

Cara berpikir seperti ini hanya berguna jika kita memahami keterbatasannya, tapi jika kita memberi gaya berpikir tentang kesahihan (kebenaran) mutlak dia akan berubah menjadi tahayul dan pada akhirnya akan menjadi suatu bahaya, hal ini sama dengan memandang dunia in melalui sebuah lensa filter merah, hal ini berguna untuk memahami perbedaan intensitas warna merah dalam alam, tapi pada saat yang sama kita tidak dapat menyimpulkan dunia ini berwarna merah, karena hasil riset kita menyatakan bahwa dunia berwarna merah, inilah paham sains (scientism) yang setara dengan khurafat.

Sebagai kesimpulan kita perlu memahami bahwa ada sebuah teluk, sebuah jurang tanpa jembatan, antara berpikir dan sains

RASIONALISME
Modernisme di eropa tidak terjadi begitu saja. Modernisme dimulai dengan momentum Renaisans (kelahiran kembali), pada abad ke 16 dan di teruskan samapai pada puncaknya dengan pencerahan (enlightment) dan revolusi ilmu pengetahuan, pada abad ke 18. Sebelum renaisans masyarakat barat telah puas dengan pandangan dunia yang didasarkan wahyu ilahi, segala bentuk aktifitas manusia di pusatkan kepada pengabdian kepada Tuhan, dan diyakini bahwa segalan tindakan sesorang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Kemudian datanglah filosof yang mengajarkan bahwa pada tiap diri manusai berlaku hukum alam yang dapat didekati dengan nalar. Tuhan diposisikan sebagai penyebab sekunder, ibarat seorang tukang jam, setelah selesai jam dibuat maka dibiarkan bekerja sendiri secara mekanis. Sekali manusia dan alam semesta telah diciptakan Tuhan kemudian berpangku tangan, tindakan berikutnya sepenuhnya tergantung kepada penilaian moral manusia sendiri.

Dengan dasar rasionalisme inilah manusia modern kemudian mengukur kebenaran, bahkan sebagai satu-satu kebenaran, sebagai apa yang kita kenal hari ini sebagai kebenaran ilmiah, kebenaran metafisik (metafisik atau metafisaka dalam bagian ini jangan dikelirukan denganistilah metafisik dalam pengertian heidegger, yang bermakna filsafat. Sedangkan istilah metafisik disini adalah dalam pengertian konvensionalnnya sebagai sesuatu yang diluar cerapan inderawi) yang kadang tampak tidak masuk akal dalam pemahaman ilmiah yang terbatas, menjadi kian terpinggirkan dan akhirnya diabaikan sama sekali. Maka logika menjadi satu-satunya dasar pencarian kebenaran. Sesuatu yang tidak logis berarti tidak riil, tidak dapat dibuktikan secara empiris, berarti tidak ilmiah, berarti tidak dibenarkan.

Empirisme dan metode ilmiah yang dikembang para ilmuwan yang dianggap telah mampu memberikan penjelasan atas fenomenaa alam. Campur tangan Tuhan di alam semesta dan eksistensi dunia spiritual dienyahkan dari realitas alam. Peran kitab suci digantikan dengan formula-formula matematik, manusia menjadi mahluk rasional semata: maka jika fakta ilmiah bertentangan dengan wahyu, maka wahyu ditolak demi kepentingan sains. Dan abad kegelapanpun dimulai.

Sampai tingkat yang cukup jauh islam mempunyai pandangan yang bertolak belakang dengan filsafat dan humanisme. Dalam Islam ukuran kebenaran adalah wahyu ilahi, sebagai kebenaran mutlak, dari Allah semata. Filsafat berlandaskan kepada kepada skeptisisme, keraguan dan mempertanyakan segala hal (kecuali dirinya sendiri!) dan tidak pernah berakhir dengan jawaban, melainkan pertanyaan baru berikutnya. Sedang kan Islam berlandaskan kepada keyakinan kepada Iman, dan karenanya akan berakhir dengan kepastian. Memandang rasionalisme dan filsafat barat dengan kacamata Al-quran, karenanya ‘mudah selesai’ sebab di antara keduanya ada posisi yang tidak dapat dinegosiasikan.

Disinilah pengetahuan tentang keesaan Allah yang disebut tawhid menjadi sangat penting , bukan merupakan sesuatu yang sekali asing dalam tradisi eropa sendiri. Pudar dan hilangnya pengetahuan ini berlangsung secara bertahap dalam proses sejarah, karena dan menata pemerintahan dunia baik secara langsung dengan hukum-hukum abadi maupun secara tidak langsung melalui kekuatan para malaikat.

Pada semua mahluk Allah telah memeberikan satu fitrah atau bentuk dalam kebajikan yang mereka perlukan agar mereka dapat menjadi seperti mereka dan mencari apa yang sesuai untuk mereka. Manusia berbeda dari mahluk lain karena dialah satu-satunya yang memiliki ambisi spiritual untuk mengetahui Tuhan dan disinilah terletak satu-satunya pemenuhan diri, tetapi juga dia dapat baik memilih maupun mengingkari peluang agung ini. Manusia menurut fitrahnya yang paling dasar berorientasi pada dunia adikodrati (supernatural), manusia diciptakan untuk memiliki pengetahuan dasar.

HEIDEGGER FOR MUSLIM – TINJAUAN SINGKAT

Posted May 27, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

martin-heidgr.jpg

karena ini hal yang dulu selalu menjadi pertanyaan-pertanyaan dalam hati dan kesadaran saya paling dalam tentang hidup yang luarbiasa ini, mulai dari saya kecil hingga hari ini terutam ketika waktu kuliah di bandung, dan jurusan yang saya ambil adalah awal saya mempertanyakan banyak hal hidup secara mendalam, sebuah pencarian panjang pun hingga saat ini, karena di departemen kami dilatih untuk berfikir linear dan non linear terutama yang tidak terjadi pada departemen lain dikampus saya, semua terlalu mekanis terlalu logik dan terlalu ‘ilmiah’ itu sebuah penjara ketololan, sebagian tulisan ini saya terjemahkan..selebihnya silahkan versi bahasa inggrisnya bisa di dapatkan di ribat jakarta kontak info@islamhariini.org.

Tinjauan Martin Heidegger
Oleh Umar Ibrahim Vadillo (translasi abbas)

Nov 26 2004, 11:01 AM

Pendahuluan
Pertama, kita harus tahu apa yang kita harapkan sebagai muslim dalam mempelajari Heidegger, jelas dia bukan muslim, jadi kita bukan ingin mencari jawaban tentang apa itu islam, dia tidak dapat memberikannya kepada kita. Apa yang dapat heidegger bantu untuk kita adalah untuk mengerti cara berpikir yang telah menjadi sesuatu elemen yang berpengaruh kuat di barat, dan menyebar keseluruh dunia. Dia menyebutnya metafisik (Metaphysics: the branch of philosophy that deals with the first principles of things, including abstract concepts such as being, knowing, substance, cause, identity, time, and space: abstract theory or talk with no basis in reality : his concept of society as an organic entity is, for market liberals, simply metaphysics.) kata tersebut bukan karangan dia, tapi dia mengambil kembali istilah ini dari arti sebenarnya dan memberikannya sebuah arti sebagai suatu alat untuk mendefinisikan cara berpikir di dunia barat, dan cara berpikir sperti ini disebut filosofi (Philosophy). Heidegger juga memberikan arti baru pada kata ini yang diambil dari arti sebenarnya dan maksudnya adalah dari pendahulu-pendahulunya, yaitu Yunani Kuno. Pada permulaanya dia meletakan filsafat bersama dengan Plato dan lalu Aristoteles. Dan dia mengatakan cara berpikir seperti ini disebut, filsafat, ini membawa kesalahan permanen yang terletak di awalnya sekali. dia menyebut kesalahan itu: ”ketidakingatan akan keberadaan diri”. Seperti awal pendekatan berfikirnya kita akan mengatakan bahwa Heidegger mempertahankan bahwa filsafat tidak dapat berpikir tentang Kebenaran (al-Haqq) yang artinya sama dengan filsafat menyebut kebenaran adalah bukanlah Kebenaran

Kenapa heidegger penting untuk kita (muslim)?
Karena kita semua (muslim dan non muslim) telah di didik untuk berpikir dalam cara berpikir barat (kafir). Hanya satu cara berpikir yang ada dalam sekolah-sekolah dan Universitas-universitas kita, yaitu, cara berpikir sciences, psikologi, sosiologi, antroplogi dan lainnya. Kita harus menyesuaikan diri kita dengan cara berpikir ini. Ini adalah sangat normal, sehingga kita tidak perlu untuk mencari cara berpikir kita lebih jauh. Kita menerima saja semua cara berpikir seperti ini yang kita pikir ‘adalah’ cara berpikir.tanda stop besar. Jadi kenapa perlu pergi lebih jauh tentang sesuatu yang normal ini? Kita tidak melihat itu sebagai sesuatu yang penting atau perlu. Lalu muncullah heidegger.

Ketika dia berkata: cara berfikir kita adalah rusak atau cacat (bermasalah)” semua orang sangat terkejut dan terguncang. Cara baru heidegger berpikir mempertanyakan apa yang sejauh ini tidak dapat dipertanyakan, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan: hakikat inti dari cara berpikir kita. Tapi apa yang aneh dari kritik heideggerian adalah dia tidak membawa epistimologi (bagian dari asal ilmu) lain, filsafat lain. Dia tidak mempertanyakan filsafat di dalam filsafat,

Dia tidak menyatakan apapun kecuali “Tamatnya Filsafat”. dia menutup kedai cara berpikir yang telah ada hampir salam duaribu limaratus tahun. Hal yang mengaggumkan adalah cara berpikir ini bukan hanya “cara berpikir”. Cara berpikir dengan yang semua apa yang telah kita buat di sekelililng kita, cara berpikir dengan apa yang kita berpikir tentang teknologi, demokrasi, ekonomi dan bahkan Tuhan. Ini yang telah membuat suatu kejutan, dan inilah kenapa heideggerian menjadi penting.

Dan menjadi lebih penting lagi bagi kita, sebagai muslim, dari pada orang lain. Kita dapat mengerti cara heidegger dimana bagi kafir itu tidak mungkin menempuh cara ini, dalam pengertian tertentu heidegger, tanpa dia sadari, sedang berbicara kepada kita, dan kaffirun samapai saat ini tidak memahami dia, mungkin tidak akan pernah.

Keterbatasan-keterbatasan heideggerian
Heidegger meninggalkan sesuatu yang belum selesai. Dia telah mengakhiri filosofi. namun dia hanya dapat secara samar-samar (tidak jelas) menunjuk jalan kedepan, dia meninggalkan persoalan yang belum selesai dengan apa yang dia sebut “puisi”, bukan seperti pusi yang lainnya, tetapi tentang seseorang yang bukan lagi dirinya. seseorang yang membiarkan “sesuatu menunjukkan diri mereka sendiri” kepadanya. Seseorang yang bukan lagi sebagai pengamat, tetapi yang diamati. Tapi dia tidak dapat pergi lebih jauh. Saya tidak akan mengatakan apa yang telah dia tunjukan bukan tidak ada apa-apa, itu sangat penting, tapi belum ada yang mengambil urusan yang belum selesai ini. Karena hanya ada satu resolusi dari berakhirnya filsafat: itu adalah Islam. Setelah heidegger menutup toko dari filsafat, hanya Islam yang dapat mengambil alih. Satu-satunya takdir yang mungkin dari cara berfikir dari barat, dari barat sendiri, adalah Islam, karena itulah saya mengatakan bahwa heidegger berbicara kepada kita, karena hanya kita, muslim, dapat menyelesaikan urusan ini.

Bagaiamana membaca heidegger
Kamu harus mengerti bahwa heidegger mempertanyakan bagaimana cara berpikir kita. Tapi bagaimana kita akan berpikir cara heidegger dari cara lain berfikir kita? Dan jawabannya adalah mungkin. Karena itu mengapa untuk berpikir heidegger kita harus mempersiapkan diri kita. Kamu harus mengijinkan dirimu sendiri untuk berjalan sedikit dengannya, kamu harus melonggarkan dirimu sedikit. Kamu tidak, jika kamu berpegang pada cara berfikirmu terlalu awal, kamu tidak akan mendapat gambaranya. Ketika kamu telah mencapai tingkat ini, kamu akan dapat mengerti heidegger dengan kemudahan yang sama saat kamu membaca novel. Lalu heidegger akan menjadi sangatlah mudah. Jika tidak heidegger menjadi kabur (tidak jelas) dan sulit yang mana pengalaman kebanyakan orang terhadap dia.

Siapa heidegger?
Martin Heidegger lahir di German pada tahun 1889 dan meninggal tahun 1976, di adalah filsuf terakhir, yang mendeklarasaikan berkahirnya filsafat. Karya utamanya adalah Being and Time (1972) sesuatu dobrakan besar dalam cara berfikir, yang mendapat antusian yang besar dan ketakutan dari orang-orang sejamannya, banyak dari orang sadar keluasan dari hasil yang dicapai. Lalu di menulis lebih dari 100 buku-buku lainya yang mencakup ribuan artikel-artikel dan esai (tulisan pendek). Karyanya masih belum semuanya dipublikasikan. Dengan kata lain kita belum selesai menemukan heidegger. Buku-buku penting lainnya adalah On the Essence of Truth, Holderlin and the Essence of Poetry, Early Greek Thinking, The Question Concerning Technology, Letter on Humanism, On the Way to Language, dan banyak lainnya yang sama menariknya. Penting juga mengetahui apa yang bukan heidegger. Dia bukan existentsialist, karena heidegger lebih jauh dari itu dan kamu tidak bisa meletakan dia sama dengan katergori seperti Sartre. Dia bukan phenomenologist, karena walaupun dia belajar dari Husserl, dia lebih dalam lagi dari gurunya.

Peringatan

Berfikir dengan heideggerian adalah berfikir pada pinggir cara berfikir. Kamu bergerak kedalam garis depan berfikir, ini sedikit berjalan dimuka dari waktumu. Kamu akan mengalami kemungkinan-kemungkinan dari dunia yang kamu belum disana. Heidegger akan merubah cara kamu melihat ilmu pengetahuan, antropologi, politik, sosiologi atau teologi. Kamu tidak akan dapat diyakinkan oleh bukti-bukti mereka dan alasan mereka, dimana kamu akan menjumpai ketidaksempurnaan dan sebagian (tidak lengkap). Ini akan membuat kamu merasa seperti seorang yang kembali abad-abad pertengahan. Kamu akan mengatakan kepada dirimu: apa yang dilakukan oleh orang-orang yang dikelilingi oleh kepercayaan-kepercayaan tahkyul dan fantasi-fantasi yang mereka dukung dengan fantasi cara berpikir mereka? Kamu akan menjadi aneh dengan waktu sendiri.

Tapi hadiahnya, hadiah yang besar sekali dimana kamu akan mendapat pengalaman hebat dari deenmu yang dengannya terdapat kemungkinan-kemungkinan yang besar dan kesempatan-kesempatan bebas dari awan-awan kebohongan dan takhyul yang telah mengelilingi kita pada saat ini. Dan juga pada tingkat individual, kamu akan dapat menyingkirkan awan-awan yang akan menentukan jadinya cara berfikir kita pada pengertian personal agama kita sendiri. Bersiaplah untuk petualangan yang akan membebaskanmu untuk menikmati islam lebih jauh

Blair? …of course he is dumb!

Posted May 16, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

what history..are you kidding me
he is as dumb as it gets.
you can fool once but you cant fool everybody all the time…even his dumbest friend: mr. bush(shit), is trying to fool american people and the world…
its too much!

(lies well told truth well hidden)

afternoon di bugis junction! 07/04/07

Posted May 8, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

at-bugis-junction.jpg

i didnt see the gal! suerr dehh
nyari wifi gratis di singapore ngga susah tapi ngga gampang, sebagian daerah udah pake wimax (WIFI kawasan), tapi rata-rata mal sudah pake wifi, akhirnya dapet juga warung kopi di bugis-junction, di coffee connoisseur, kopinya enak…top! cozy and not too crowd.. salah satu tempat minum kopi yang perlu di coba kalo ke singapore…

NEGARA FISKAL

Posted April 30, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

dibawah ini saya mengambil sedikit cuplikan dari buku terbaru sidi zaim saidi yang segera terbit, anda perlu membaca buku ini. melalui buku sidi zaim ini anda bisa melihat a glimpse dari cahaya spiritual Shaykh Dr. Abdalqadir As-Sufi Al-Murabit, seorang Shaykh Instruction yang membuat hakikat sebagai suatu kenyataan tentang kebenaran yang terpancar dari sumber cahaya di atas cahaya yang menerangi setiap orang yang mengambil cahaya darinya untuk membuat cahaya yang lebih terang lagi…hingga kamu hilang, dan munculah kesadaran di atas kesadaranmu sendiri ketiadaan dirimu…bukan tentang malaikat..bukan tentang terbang..bukan tentang mahdi..bukan tentang setan…ini tentang Allah. kamu tidak ada!

NEGARA FISKAL
Demokrasi Adalah Pelayan PerBankan

Dalam kehidupan modern perorganisasian masyarakat dilakukan melalui struktur kaku dalam bentuk negara-bangsa (nation-state) bentuk negara strukturalis seperti yang diceritakan oleh Shaykh Abdalqadir As-Sufi pada ceramahnya di Universitas Tucson Arizona 1972 membahas film THX 1138. dan inilah yang terjadi hari ini. Bentuk negara Strukturalis semakin monolitik, berupa mesin politik yang disebut demokrasi, demokrasi di promosikan sebagai sistem negara yang -terbaik- karena dijalankan dengan prinsip –pemisahan kekuasaan dalam tiga pilar demokrasi- yaitu legislatif (fungsi pembuatan peraturan), yudikatif (fungsi peradilan) dan eksekutif (fungsi pemerintahan), suatu struktur kekuasaan yang dibangun, dijalankan, dan di lestarikan dengan pembiayaan perbankan di satu sisi dan di atas dasar pemajakan kepada warganya di lain sisi demi tujuannya sendiri. Hutang dan Pajak adalah jaminan keberlangsungan kesatuan sistem itu sendiri. Akibat dari sistem ini adalah hilangnya kebebasan setiap orang anggota masyarakat di bawah kontrol dan intrusi negara ke wilayah pribadi seseorang.

Instrumen utama dalam melestarikan sistem negara fiskal adalah pencetakan uang kertas dan pemaksaan pemakaiannya oleh negara sebagai satu-satunya alat tukar dalam transaksi, melalui undang-undang alat tukar (legal tender law). Meskipun pada dasarnya tidak akan ada seorangpun menyetujuinya- karena itu harus dipaksakan melalui undang-undang negara – pajak ditarik atas nama ketaatan palsu agar menjadi -warga negara yang baik-. Dengan berjalannya waktu tak terasa pajak tersebut semakin hari semakin di perbesar dan diperluas cakupannya (yang terkini adalah NPWP untuk individu yang dikenakan kepada seluruh individu yang berpenghasilan, inilah demokrasi), seperti kita lihat hari ini pada mulanya negara menarik pajak kepada warganya secara terbatas atas dasar pemilikan aset (pajak bumi dan bangunan), kemudian atas dasar hasil tetesan keringat (pajak pendapatan), kemudian atas apa saja yang ditransaksikan (pajak pertambahan nilai, pajak penjualan, pajak perjalanan, pajak hiburan, pajak restribusi, pajak lingkuangan hidup dan lainnya) Bahkan uang kertas itu sendiri adalah bentuk pajak, walaupun tidak banyak di sadari oleh masyarakat umum.

Bentuk demokrasi, dalam arti yang sebenarnya yang sesuai dengan makna demos dan kratos (kekuasaan oleh rakyat), hanyalah berlaku di zaman yunani kuno dulu, yang berada dalam konteks negara kota dengan jumlah penduduk terbatas. Dalam demokrasi asli ini semua penduduk kota terlibat langsung dalam pengambilan keputusan, di sini tidak dikenal istilah perwakilan, dalam demokrasi modern para –wakil rakyat- menghindari bertanggung-jawab atas segala keputusan politiknya. Dia selalu mengatakan setiap keputusan yang diambilnya sebagai –atas nama rakyat- sebagai cara menghindari tanggung jawabnya sendiri.

Negara fiskal sebagai kita tahu, memajaki rakyatnya karena kepentingan untuk mepertahankan dirinya sendiri (birokrasi), serta melunasi hutang kepada para kapitalis yang menyokongnya, yang di kemas sebagai hutang nasional.

Negara fiskal, melalui instrumen demokrasinya, adalah sebuah instrumen penindas yang sangat absurd, warga negara diminta memilih orang-orang yang kemudian membangun sebuah struktur birokrasi yang melestarikan penindasan itu sendiri.

Negara fiskal dijalankan sepenuhnya dengan merampas kebebasan individu warga, yang secara radikal bisa kita rasakan hari ini yaitu dengan merampas kebebasan bertransaksi dan atas pemilikan harta pribadi (melalui pemaksaan uang kertas dan pajak berlapis yang telah disebutkan di atas.

Kehidupan umat manusia di dunia saat ini di dominasi oleh kapitalisme, Teknik dari kapitalisme adalah konstruksi negara fiskal, dalam sistem ini yang disebut negara pada saat ini memberikan hak monopoli kepada para bankir untuk mencetak uang kertas. Untuk keperluan ini mereka diberi izin untuk membentuk Bank Sentral, sebagai imbalan mereka menyediakan kredit (hutang) untuk keperluan “pembiayaan negara” tepatnya proyek-proyek. Kita semua, tiap-tiap individu warga negara, kemudian dipaksakan menjadi jaminan atas pengembalian hutang-ribawi tersebut, melalui pemajakan. Pemajakan itu sendiri ada dua macam: Pajak Langsung, yang ditarik tunai dari harta warga negara dan Pajak Tidak Langsung (inflasi dan seniorage) yang secara nyata dirasakan sebagai terus-menerus turunnya nilai tukar mata uang kertas. Ini berarti naiknya harga-harga komoditas dari waktu ke waktu.

Tiap-tiap tahun birokrasi negara (birokrat) atau -orang-orang yang anda pilih melalui Pemilu- menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) yang setelah itu disahkan menjadi APBN, untuk pelayanan publik (pendidikan, kesehatan, perumahan, pertahanan dan sebagainya), dengan sejumlah tertentu untuk dibayarkan kepada ‘kekuatan penyandang dana’. Negara menjamin kepada para bankir atas pengembalian hutang ini dari pembebanan pajak kepada setiap warga negara. Para bankir tentu saja, dengan sangat mudah memenuhi kebutuhan biaya tersebut, berapapun nilainya, dengan cara mencetak kredit ex nihilo: mencetak angka-angka dalam buku atau sebagai byte dalam layar komputer. Dari sinilah kita disodori suatu sihir yang dikenal sebagai ‘Hutang Negara’ (Public Debt). Kalau bukan Bank Sentral negara nasional yang bersangkutan sendiri maka jaringan perbankan internasional akan mengambil alih perannya sebagai financier (penyandang dana) tersebut….

jadi bagaimana seterusnya? apa jalan keluarnya dari semua sihir abad ini? kamu ada di mana? apakah kita akan diam saja? apakah kamu islam atau hanya label saja? kamu sibuk apa?

…seterusnya anda bisa baca pada buku ILUSI DEMOKRASI oleh zaim saidi yang akan segera terbit!.

IRAK IS A TERRAIN

Posted April 4, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

 sketsa_bunga.jpg

kutipan 1;24AM 45/03/07
Ulama Dunia Usul Pasukan Indonesia Gantikan AS di Irak

Fitraya Ramadhanny – detikcom

Bogor – Para ulama Sunni dan Syiah meminta agar pasukan AS ditarik dari Irak, dan diganti dengan pasukan muslim. Mereka juga mengusulkan agar Indonesia mengirimkan pasukannya ke Irak.

“Yang diusulkan adalah yang paling jauh dari konflik kepentingan di Irak, yaitu pasukan Islam dan non Arab. Indonesia utamanya, itu yang berkembang,” ujar utusan khusus Pemerintah RI untuk Timur Tengah, Alwi Shihab, dalam jumpa pers usai Konferensi Ulama Internasional di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/4/2007). Menurut Alwi, para ulama ingin menghindari kevakuman kekuatan militer jika pasukan AS benar-benar hengkang dari Irak. Mereka khawatir situasi Irak justru menjadi tak terkendali….
———————————————————
JELAS KONFLIK DI IRAK KARENA ANJING SO CALLED BUSH ADMINISTRATION dan sekutunya, kok jadi kita yang harus bereskan. biar bush yang selesaikan kan dia hebat. Kalaupun itu sampai dilakukan pasukan indonesia (islam) dikirim ke Irak, sungguh bodoh usulan itu, karena amerika yang berbuat kenapa kita disuruh ngurusin taik pemerintahan amerika (bush-shit), sementara perusahaan raksasa kapitalis amerika telah mengambil alih semua sumber-sumber alam penting irak atas nama demokrasi..terus pasukan indonesia di suruh jadi satpam apa ya.. wah alwi shihab apa ngga ngerti ya konstelasi politik yang ada saat ini. politikus sucks! :)
———————————————————-
baca durse Shaykh Abdalqadir berjudul Iraq Is A Terrain di http://www.islamhariini.org/mu/mti01.htm

Gagasan di Balik Toleransi

Posted April 3, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Gagasan di Balik Toleransi
Dari Esoteric Deviation In Islam, halaman 185
Oleh Umar Ibrahim Vadillo

Barangkali argumen mengenai penolakan penyatuan politik dan agama yang paling sering dipakai dan sangat dikenal adalah toleransi atau tanpa toleransi. Setiap pernyataan yang didasari oleh ilmu yang absolut mengenai kebenaran dan sesuatu yang benar adalah bentuk dari ketidaktoleranan. Toleransi memegang peranan penting untuk mencapai kondisi sinkretisme sosial. Arti tersembunyi dari toleransi beragama terletak pada perilaku umum yang diarahkan sebagai sesuatu yang dilindungi dan tidak diperbolehkan untuk diteliti secara cermat melalui debat dan pendapat masyarakat (tidak boleh disanggah dan ditolak). Melalui wacana ini diperkenalkanlah suatu pokok permasalahan mengenai hubungan minoritas atau mayoritas, dan penerimaan radikal terhadap perbedaan atau kenyataan mengenai perbedaan, yang mengizinkan komunitas-komunitas yang berbeda untuk hidup berdampingan. Sebuah agama baru haruslah toleran agar perbedaan yang ada dapat dilarutkan menjadi satu campuran kepalsuan dalam sebuah negara.

Dasar filosofis dari toleransi yang digunakan pada saat ini mengabaikan situasi struktural tertentu dimana individu tidak diberikan pilihan lain selain dari kemampuan untuk melakukan hal-hal tertentu yang terbatas. Pemaksaan terhadap individu ini diukur dengan menggunakan standar ganda; apakah hal ini dimengerti sebagai keadaan yang memaksa atau sebagai keadaan yang biasa saja. Apakah kemudian tindakan yang diambil dilakukan secara terpaksa atau secara suka rela, adalah suatu permasalahan yang berbeda. Yang menjadi pokok permasalahan adalah ketika seseorang, secara sadar, diwajibkan untuk melakukan suatu tindakan berdasarkan kondisi struktural dan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ini adalah wilayah kesadaran lain dalam sebuah metode kesadaran dimana seseorang melakukan hal yang dikerjakannya: apakah seseorang melakukan suatu tindakan yang diwajibkan kepadanya dengan rasa marah atau senang. Dengan kata lain, ketika merujuk kepada kebebasan eksistensial (keberadaan) individu, maka perbuatan lebih memiliki relevansi dibandingkan dengan prinsip dan ide. Dalam filosofi toleransi, kita dianjurkan untuk melihat kepada hal yang salah, atau kita akan dicegah untuk mengarahkan prinsip pemaksaan tersebut menjadi sesuatu aspek keseharian dalam kehidupan kita. Perbuatan bukanlah benda atau pun gagasan, perbuatan dinilai dari pelaksanaannya. Kehidupan terdiri dari sejumlah perbuatan yang tidak dapat digantikan oleh prinsip-prinsip dan gagasan atau ide. Toleransi yang diperkenalkan kepada kita adalah toleransi esoterik yang mengabaikan atau bahkan menghilangkan sama sekali arti penting dari sebuah tindakan/perilaku sebagai perwujudan dari kebebasan, toleransi esoterik lebih mendahulukan dan berpihak kepada prinsip dan gagasan yang sama sekali tercerabut dari kepentingan hidup yang sejati. Prinsip, gagasan dan keyakinan memiliki sifat esoteric, -esoterik, memiliki beberapa penjelasan, salah satunya adalah pola berpikir yang memiliki wilayah dalam, pola pikir yang lebih mengarah kepada pencarian prinsip-prinsip universal, untuk dapat memisahkan pemikiran umum dan pemikiran yang unik (Esoteric Deviation in Islam, halaman 60)- sedangkan tindakan atau perilaku diterjemahkan sebagai exoteric -esoterik, pola berpikir yang memiliki wilayah luar (Esoteric Deviation in Islam, halaman 60)…

Pendekatan sejati dan membebaskan mengenai arti dari kebebasan yang sesungguhnya harus mengarah kepada perbuatan atau tindakan (yang kita kenal sebagai ‘amal dalam bahasa Arab) dan kondisi-kondisi dimana kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan suatu perbuatan/tindakan mengalami proses pembentukan dan disusun. Imam al-Ghazali, seorang Sufi terkemuka, mengatakan bahwa ‘Ilm al-mu’amala mendahului ‘Ilm al-mukashafah, dengan kata lain pengetahuan mengenai perbuatan dan tindakan lebih diutamakan daripada pengetahuan mengenai hal-hal yang bersifat khusus atau tersembunyi (contohnya pemikiran, ide atau gagasan).

Mitos mengenai nasionalisme dan kemakmuran ekonomi mensyaratkan kepatuhan dari semua ekspresi ideologi yang ada. Contoh paling baik dari pernyataan ini adalah sistem perbankan. Simbol-simbol dan praktek sistem perbankan didukung penuh oleh segenap sendi masyarakat, termasuk di dalamnya adalah umat dari seluruh agama yang ada, dan ketika sikap ketidaktoleranan tidak dapat dihubungkan dengan pengambil alihan agunan secara paksa, sikap ketidaktoleranan dengan mudah dapat dihubungkan kepada siapa saja yang mencoba menderegulasikan (mengubah aturan) dan memprivatisasikan (swastanisasi) uang serta mengembalikan pilihan mengenai alat tukar kembali kepada masyarakat. Cara kita untuk beribadah kepada Allah dapat dipertanyakan (boleh diubah atas nama demokrasi dan toleransi), akan tetapi uang yang ada di dalam kantong kita menjadi sebuah dogma (ajaran agama yang kaku). Negara kebangsaan, perbankan, dan demokrasi menjadi semacam identitas diri yang tidak dapat dikritik.

Proses untuk merendahkan posisi Islam dibawah semua dogma keagamaan hanya dapat dilakukan baik dengan cara menindas Hukum Islam itu sendiri, atau dengan cara mengganti atau mengurangi atau menunda pelaksanaannya. Ketika ini terjadi, istilah-istilah seperti toleransi, modernisme, esoterisme dan messianisme (mahdisme, menurut pengertian kaum shiah) mendapatkan titik temunya. Barulah kemudian Islam dapat diterima, dalam artian, sejauh Islam dapat masuk ke dalam kerangka yang sejalan dengan satu norma yang telah dibentuk sebelumnya dalam suatu tatanan masyarakat. Di luar dari itu, akan mendapatkan label seseorang yang sakit jiwa, yang mengartikan pesan-pesan Islam secara literal atau menjadi suatu istilah yang umum saat ini, Islamisme. Hal yang paling tidak dapat diterima dalam Islam adalah adanya suatu kondisi dimana debat, perubahan dan penerimaan terhadap ide-ide lain tidak diperkenankan. Kebutuhan akan hadirnya perbedaan perndapat sangat penting bagi demokrasi itu sendiri. Islam berbeda dengan sebuah teori yang menjadi ukuran bagaimana seharusnya agama yang toleran itu: teori itu adalah deisme. aktek Deisme diasosiasikan dengan pemahaman mengenai gagasan keilahian, teks-teks suci dan prinsip moral secara umum, yang tidak memiliki hubungan dengan ‘ritual eksoteris’ (praktek ibadah yang bersifat fisik). Bukan merupakan hal yang kebetulan jika penulis ‘The Rights of Man’, yang menjadi inspirasi bagi hak asasi manusia, mengatakan: “Setiap orang, apapun agamanya, adalah seorang Deist yang merupakan tingkat pertama dari Imannya. Deisme, yang berasal dari kata Latin Deus-Tuhan, adalah kepercayaan kepada Tuhan, dan kepercayaan ini merupakan hal mendasar dari perwujudan iman seseorang”. Semua hal yang berada dalam lingkup model keagamaan ini dapat diterima, akan tetapi hal tersebut berada di luar lingkup model, maka hal tersebut dapat diperdebatkan dan dipertanyakan. Perdebatan disini ini memiliki arti bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting. Konsep moralitas baru dengan sangat memaksa menyatakan bahwa semua agama adalah sama dalam tatanan nilai-nilainya, sehingga dalam pelaksanaanya hal ini sama saja dengan menjadikan proses memilih dan menjalankan perintah agama sebagai suatu urusan yang esoteris (dalam hal ini artinya khusus, hanya dalam lingkup tertentu saja. Atau biasa kita kenal dengan ungkapan ‘Agama itu sifatnya pribadi’).

Toleransi juga menjadi alat untuk membentuk opini masyarakat, Ini hanya berlaku bagi ‘pihak lain’, dalam hal ini adalah umat Muslim. Hal ini digunakan untuk menundukkan semangat umat Muslim, seringkali digunakan untuk menyalahkan kita untuk suatu hal yang tidak di lakukan. Sebuah proses yang menggiring dunia untuk sampai ke tahap homogenitas kebudayaan dipacu oleh sistem ekonomi yang homogen, belum pernah sekalipun dianalisa dengan menggunakan prinsip toleransi atau ketidaktoleranan. Sebaliknya: hal apa pun yang berlawanan dengan sistem di atas langsung diberi cap ‘reaksioner’. Sebuah anggapan … model dari sebuah masyarakat yang dimana riba dan pajak bukan hanya diperbolehkan bahkan menjadi hal yang diperlukan, bahkan menjadi satu satunya tolok ukur yang dimana semua masyarakat dengan konsep toleran dinilai dan dibangun seharusnya mempertanyakan keabsahan serta hubungan dari gagasan mengenai toleransi secara menyeluruh. Tujuan akhir dari toleransi akan kehilangan integritasnya ketika diterapkan oleh umat Muslim. Gambaran mengenai ekonomi terpimpin dan politik yang hina ditambah dengan penyetujuan yang bersifat menghina terhadap pemusnahan etnis masal, sebagaimana kita saksikan di Algeria, Bosnia dan Turki, melawan partai-partai Islam demokratis yang mencoba bermain dengan menggunakan kaidah toleransi, menyingkapkan makna sewenang-wenang dari toleransi yang tidak lebih dari moralitas sehari hari belaka.

Apa artinya, kita bisa mempertanyakan hal ini, ‘kebebasan beragama’ ketika agama telah dikecilkan menjadi suatu kehampaan? Apa artinya menjadi seseorang yang memiliki ‘toleransi beragama’ jika pada setiap diri mereka telah ditanamkan sebuah sistem finansial dan sistem media yang tidak dapat diganggu gugat? Sebuah ujian serius bagi konsep toleransi adalah penolakan terhadap pajak yang didasari sepenuhnya olehr dasar-dasar agama. Seseorang mestinya dapat berkata: “Saya menolak untuk membayar pinjaman hipotek ini karena dasar dari kontrak perjanjiannya dianggap hampa dan batal menurut Hukum Islam, yang menyatakan bahwa seseorang hanya diwajibkan untuk membayar hutang sesuai dengan jumlahnya, dan bukan bunganya.” Allah berfirman dalam al Qur’an Karim:

Hai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba
jika kamu orang-orang yang beriman

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba),
maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.
Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba),
maka bagimulah pokok hartamu;
kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

(Qur’an, al Baqarah, 277-278)

Kita menemukan bukti bahwa sesungguhnya toleransi dan ketidaktoleranan tidak memiliki arti apa pun. Hal yang memiliki arti penting adalah jalan hidup kita, khususnya dalam lingkup perekonomian sehari-hari (bukan ekonomi akademisi yang didasari oleh angka-angka), yang ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih tinggi dari agama. Ini bukan berarti ekonomi memiliki posisi yang pasti secara ideologi. Malah justru sebaliknya, ekonomi merupakan pemikiran yang paling tidak masuk akal dibandingkan dengan bentuk pemikiran-pemikiran lainnya. Secara mudah ekonomi hanya menyatakan bahwa, di dunia yang terlahir dari Perang Dunia Kedua ini, tidak ada satu partai atau satu agama pun di dunia ini yang diperkenankan untuk mencanangkan, lebih-lebih lagi melaksanakan satu-satunya perang bagi masa depan: “Perbankan adalah riba, yang artinya adalah lembaga kejahatan dan harus diberantas.” Latar belakang inilah yang menjadi alasan bagi kita dalam menelaah esoterisme: Sebuah latar belakang yang dipenuhi oleh konspirasi hening di dunia ini, yang merubah jalan hidup, dan mengenai sekelompok orang ingkar yang mana Allah telah menyatakan perang terhadap mereka: riba dan para pelaku riba. Intinya adalah memisahkan hubungan kehidupan dengan tatanan etika agar seseorang individu dapat merasa nyaman ketika dirinya menyerah kepada secarik kertas perbankan yang merupakan bagian dari paganisme. Paham toleransi dan ketidaktoleranan adalah tabir pengalih perhatian esoteris yang menyembunyikan kejahatan yang sesungguhnya (riba).

PLURALISME…

Posted April 3, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Pluralisme
Dari Esoteric Deviation In Islam, halaman 177
Oleh Umar Ibrahim Vadillo

Paham pluralisme menyatakan bahwa sistem konstitusi monoteis, bersama perangkat kritik dan oposisinya, adalah jaminan terbaik bagi kebebasan keragaman etnis dan perbedaan budaya dalam sebuah negara moderen. Suatu alternatif selalu dilihat sebagai chaos (kekacauan). Dalam proses tersebut, seseorang harus secara penuh mendapatkan identitasnya dari negara yang menuntut adanya pemisahan menyeluruh, sehingga identitas seseorang bersih dari adanya konflik identitas yang menciptakan suatu kelompok karakter yang memiliki kesamaan nilai-nilai dan keyakinan, that is with a sense of differentiated identity sebagaimana yang terjadi pada masa lalu. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kebenaran negaralah yang menjadi prioritas (kebutuhan) utama dari janji kesetiaan, di atas agama, dan yang memberikan identitas, juga berada di atas agama. Pluralisme juga bisa diartikan sebagai homogenisitas (proses persamaan) oleh negara, karena negara melakukan penihilan identitas lain guna mengukuhkan identitasnya sendiri. Di bawah kondisi pluralis yang dipaksakan, identitas keagamaan dikecilkan sehingga menjadi tidak lebih dari suatu urusan pribadi dan komunitas semata, yang tidak memiliki hubungan apapun dengan urusan ekonomi dan politik secara umum.

Bagian mendasar lain dari filosofi pluralisme ini adalah teori kepribadian palsu dari korporasi-korporasi (hal ini dapat dilihat dalam kepemilikan saham suatu perusahaan, yang mempunyai saham tertinggi adalah mayoritas) , Fenomena (kondisi-kondisi) ini dikaitkan dengan prinsip kepemilikan mayoritas (yang sejalan juga dengan perumusan politik dari prinsip kekuasaan mayoritas) yang memberikan sebuah pembenaran yang kuat atas aturan dan kontrol yang dimiliki oleh kaum minoritas* (minoritas yang dimaksud disini adalah sekelompok kecil orang atau kelompok dalam hal ini oligarki kapitalis yang mengguasai hajat hidup orang banyak melalui perusahaan besar multinasional yang menguasai sumber-sumber alam suatu wilayah atau negara) atas porsi besar perekonomian. Identitas kaum minoritas ini tidak diketahui dan tersembunyi dari masyarakat umum.

Atas nama pluralisme inilah identitas sosial dan ekonomi seseorang dihilangkan, sehingga seseorang menjadi tidak lebih dari mahluk yang homogen (sejenis). Seseorang hanya diperbolehkan memiliki perbedaan yang ditilik dari jenis kelamin dan perilaku beragamanya (beragama menurut definisi pluralisme), tetapi tidak atas tujuan ekonominya. Anda diperbolehkan untuk menjadi berbeda asal anda tetap membayar pajak dan mortgage (hipotek: hutang dengan jaminan, biasanya rumah) anda. Pluralisme adalah homogenitas (kesamaan). Prinsip ini juga tidak memberi kesempatan bagi anda untuk menjadi berbeda dengan yang lain dan memiliki kebebasan dan perbedaan pandangan secara politis. Pluralisme juga berarti rendahnya kemampuan untuk membedakan atau menilai, yang berakibat kepada ketidakmampuan untuk mengenali kaum ‘minoritas’ pengendali ekonomi yang berada di tengah-tengah sebuah kesamaan.

Sudah menjadi kewajaran jika ide Islam plural berada dalam golongan yang sama dengan bank Islam atau hak asasi Islam; mereka saling berlawanan dalam arti katanya. Identitas dan janji setia kita sebagai Muslim adalah milik Allah, dan Rasul-Nya, sallalahu alayhi wa sallam. Posisi agama kita berada di atas identitas lainnya.

Kaum orientalis, diikuti kemudian oleh kaum modernis telah mencoba dengan segala cara untuk menjembatani kemustahilan ini guna membawa umat Muslim berada di bawah payung humanisme. Kaum orientalis melihat penolakan kita sebagai bentuk dari sebuah kesombongan, sedangkan kaum modernis melihatnya sebagai warisan dari sistem pendidikan kuno. Hal ini dapat dilihat dari karya tulis Charles Malik yang menyatakan bahwa tidak ada seorang cendikiawan Musliim dalam sejarah yang dapat menulis sebuah esai ‘otentik’ mengenai kristen, sedangkan para cendikiawan kristen telah berhasil menulis karya tulis ilmiah mengenai Islam dan agama lainnya. Dia berpendapat, bahwa ketika kaum kristen dapat mengidentifikasikan atau mengaitkan diri mereka terhadap peradaban Islam, umat Muslim menolak untuk melakukan hal yang sama karena umat Muslim ‘melihat agama mereka sebagai agama yang superio paling unggul. Oleh karena keunggulan ini, maka kita sebagai Muslim tidak dapat masuk ke dalam kerangka konstitusi moderen yang ‘beradab’. Yang diperlihatkan pendapat di atas adalah agama kristen telah menyerah kepada pola pikir dan cara hidup pagan yang dominan dewasa ini. Pendapat ini juga memperlihatkan derajat dari proses esoterisasi yang terjadi pada agama mereka (kristen). Pendapat ini juga memperlihatkan bahwa di samping semua kesulitan yang dihadapi oleh umat Muslim dan percobaan untuk meng-esoterisasi (esoteric; yang khusus, hanya dipahami oleh kalangan tertentu) Islam, posisi kita yang kuat, dimana hal ini tidak dimiliki oleh kristen, tetap teguh dalam keyakinan bahwa Islam adalah agama yang terakhir dan sejati.

Kita melihat pluralisme sebagai proses penihilan manusia yang dipraktekan dalam sebuah negara sekuler, dimana praktek ini telah menggantikan kebiasaan berkelompok yang memiliki kesamaan nilai dan keyakinan, serta memiliki identitas dan komunitas sebagaimana yang diajarkan, sebagai contoh, dalam Islam. Pluralisme juga berarti hancurnya masyarakat dan proses pengasingan individu dalam sebuat masyarakat dimana individu tersebut tidak lagi memiliki tujuan yang bersifat keilahian akan tetapi individu menjadi tidak lebih dari sebuah proses mekanis.

Amal Madinah

Posted January 21, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Tags:

makam_rasul.jpg

Suatu kali saya shalat di masjid dengan tangan disamping bukan seperti kebanyakan pengikut madzab syafii yang melipat tangannya di dada, mereka pikir mungkin saya shi’ah, padahal bukan itu (well its normal if they think that way) tapi ada satu orang bapak tua bilang, “kamu mengambil madzab maliki ya? saya tersenyum dan bilang iya, tepatnya amal madinah saya bilang.

banyak muslim di nusantara (terutam dikota besar) mungkin tidak pernah tahu apa itu madzab atau bahkan mereka tidak peduli malah dan ada yang non-madzab..sedangkan madzab itu sendiri artinya adalah: jalan yang sering dilalui, dari mana kita mengambilnya. di madinah tempat pertamakali hukum-hukum dan ukuran di amalkan dan dijalankan oleh generasi pertama yang luar biasa ini.

The Amal of Madinah
By Umar Ibrahim Vadillo (From “The Esoteric Deviation in Islam”)
Ibn Rushd, the prominent Cordoban faqih and qadi pointed out the importance of the Amal (the established legal practice) in his book Bidayat al-Mujtahid.

The first three generation following the Prophet, sallallahi alyhiwasallam: companions, the followers and the followers of the followers. Imam Malik belonged to the third generation. Malik’s teaching is referred to as the School of the People of Madinah because the practice of the people of Madinah took priority over the Hadith. Despite this, many people do not know what the School of Madinah is, and it is important to remind ourselves that the soundness of this school provides us with the basis on which all the schools met.

The Restoration of the Amal
Under the influence of western scholarship, the idea of the Sunnah of the prophet, sallallahi alyhi wasallam, has in modern days become increasingly systemized and formalized around the textual sources. Although the textual sources of Quran and Hadith were accepted by the Madinans (at the time of Imam Malik), they were evaluated against the non-textual source of Amal (behaviour), thus giving the non-textual source authority over the textual.

The apparent distinction consists of the different between what is being said and what is being done, but the important distinction is in fact must deeper.

The textual basis of the Sunnah consist of individual narrations on specific issues and events. The Amal, on the other hand, is the Sunnah in action. The problem that comes when resorting exclusively to what is recorded is that it tends to overlook the most common actions (amal), simply because they are seen as being obvious and therefore not necessary to narrate, and when they are mentioned they do not carry an equal weight to the textual source. Thus, inadvertently, he who only reads records will lose tough with the most common, everyday behavior and what is, because it is everyday,
the most useful amal. This explains why those who have used this methodology miss the importance of common things like the Dinar, the Islamic markets, the caravans (Islamic trade) and also the guilds in the Muslim community.

There is also a Sufi dimension to it. To have any chance of understanding the Amal, you must need and desire the Amal. When you need and desire the Amal, that is, when you are trying to make it part of your life by establishing it within yourself and your community, then you understand. The meaning and importance of the Amal jumps out at you. The interrelations and hierarchies within the Amal become clear to you, and that certainly leads you to action. Without this desire, academics have little chance of seeing what is what, and what to do. If you cannot understand the Amal, you cannot judge. You are paralysed, and as a result you may drag others into the same paralysis as well.

Modernist scholars have been propagating for over a century a new and dangerous way of suing the textual sources, specially hadith: an auto- selective and pragmatic use of them, a kind of hadith self-service. At the same time they denounce the classical madhhabs (and Sufism) as being out of date. Of those books written embodying this modernistic approach, the outstanding one, the one whose methodology more clearly belongs to no-madhhabs, the one which is usually show as an example of extreme confusion in this respect and the one most despised by the traditional fuqaha is Sayyed Sabiq’s Fiqh Al Sunna. It is a any of the classical schools of laws.

This matter of the Amal of the people of Madinah, is often not known by our modernist scholars. Needless to say, the entire modernist inheritance has covered up this subject, for it can dismantle their independent ijtihad which is based on hadith.

The Amal of the people of Madinah reflected the Sunnah. It is: “a thousand taking from a thousand” than “one taking from one”.

The political aspects of the Amal
Properly speaking, there is no judgment without amr. That is to say, we consider that a judgment without the implementation of the judgment is incomplete. Without amr the Deen becomes puritan. Under amr – under the authority of an amr – the judgment itself takes a different weight and meaure. The Amir gives direction or a purpose to the Shariah without which it does not make sense. This is because the Shariah is about life and life has a purpose. The purpose gives orientation and establishes priorities it in the sense of being able to understand what is more important or what comes necessarily before in the process of achieving something. The Amir provides this sense of purpose.

In the times we are living, our purpose is to establish Islam. Once the Amir says to his community, “We are going to establish Islam,” then everything changes. A part of the Shariah comes forward naturally which otherwise would remain out of sight. This implies naturally the emergence of an “order of priorities”. This is the beginning of Islamic Law in action. Even if the Amir’s purpose is wrong or limited, that can be corrected, but the community has set itself a new mode that will transform everything. From this moment the community starts to grow in dawah, and starts advancing towards the realisation of the Deen. It becomes political. Only with an Amir is judgment possible. The Shariah starts to work and the judgment becomes different. The existence on an Amir in the community allows each to be recognized under a wider domain that the purely personal. There are problems – and solved in the domain of the community. Only when there is an authority over the community will judgment of this nature be possible. This is what we call taking into consideration not only the text but the Amal, which is above merely examining a specific case by the cold analogical study of textual sources. Introducing an order of priority means also that some judgments may not be given at all, simply because the conditions required for the judgment to be implemented are not there. This is also very important.

Otherwise we are back to the situation prevalent today where some ulema without Amirs have become internet judges they can solve any problem which is given to them as long as the question is properly formulated. They do not care whether the judgment, once given, is going to be executed or not, or whether or not it is relevant to the questioner or his community. The Shariah is then reduced to a game of theoretical questions. The minutest problem is given a weight identical to the most important.

Humanisme dan Islam

Posted January 21, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Humanisme dan Islam

Ini cuplikan mengenai Humanisme dan Islam oleh Umar Ibrahim Vadillo Bey dari bukunya yang terbaru Esoteric Dviation In Islam, capek juga lihat berita tentang semua pseudo thing di jakarta, ngga tahu di daerah lain..pengen jalan ngelihat juga di daerah lain

Fri, 19 Nov 2004 14:02:43 -0000
Contemporary Muslim modernist literature has brought topics such as Islamic Humanism and Islamic Human rights to the front. I would like to examine the validity of these terms with you and open this new thread to discuss this matter. At the heart of the matter we need to understand “Humanism” itself. Humanism is not an Islamic term, it was developed in Western thinking and it has invaded political, economic and even religion thinking. There are many critiques to humanism and many critical histories of . humanism. Most critiques accuse humanism of being part the utilitarian philosophy of the XVII century, along with tolerance and the birth of Economics. Others go earlier to the so-called Renaissance and men becoming the measure of things (man is the judge and the observer. I prefer the view point of Heidegger who places the beginning of Humanism with the advent to the birth of philosophy with Aristotles and Plato. Heidegger goes deeper, in my view, by seeing humanism as metaphysics, thus the root of Western thinking. For those interested in this topic read his “Letter on Humanism”.Ultimately we would like to discuss the political consequences of this phenomenon in particularly the creation of Human Rights, which in my view is the “Shariah” of another religion. The creation of Islamic Human Rights, is for me as contradictory as saying Islamic communism, or Islamic kufr. It has nevertheless the same genealogy as the modernist concepts of Islamic democracy, Islamic economics, Islamic banking, Islamic constitution, etc. We can cover this subject from any of this angles and see how far we can go.Thus, I open this thread to hear from you and exchange views on this important matter.

Humanism and Islam
The humanity of humanism is determined by a fixed interpretation of nature,history, the world and the entities in their totality. All humanism is therefore grounded upon metaphysics. It is metaphysical in nature. Theunderstanding of man when limited to the vital experience of man is a negation of any high spiritual value. Man is capable of reaching beyond a mechanical and practical definition of space and time. But if trapped by the technical understanding of the world, man will fix meanings of nature and himself according to his technical project. The result will be a subjective representation of himself, but not himself.

Acting cannot be merely valued by its utility but by worshipping Allah. To measure acting according to its utility is to judge it by a standard to which it does not correspond. This is like measuring the capacity of fish to swim by seeing how it can live on dry land. To abandon utilitarism does not mean to become ‘non-practical’. The rigour of pragmatism in contrast to that of worshipping, is not a comparison between artificial technical or exact principles and ideas and non-technical and inexact principles and ideas. Worshipping involves first the negation of other-than-Allah, that is, the abandonment of those principles and ideas that appear as obstacles to the submission to Allah. This is something very precise that enables us to fulfil our duties with Allah. But to try to be practical disables us from fulfilling our duties, because other-than-obedience comes in between. We must free ourselves from the technical interpretation of acting. The helplessness of the technical scientific understanding of the world can only be overcome by the remembering of Allah that frees the will of man from the self-imposed technical project and restores the will of man over creation.

The humanistic way of thinking maintains that Islam has to prove itspredicaments before the ’sciences’. The Muslim Humanists are hounded by thefear that Islam will lose prestige and validity if it is not justified by sciences. And they believe that the most effective way of doing it is by ‘elevating’ Islam to the rank of a science. So they speak in terms of the scientific proofs of Qur’an, or Islamic sciences of fiqh, Shariah or Tasawwuf. Today you can become a PhD in Tasawwuf in some Arab Universities.

But such an effort is an abandonment of the deen of Islam. Not being a science does not mean being unscientific or irrational. What it means is that Islam belongs to another level superior to that of sciences. The purity of sciences, that is, the objectification of sciences consists of providing a uniform accesibility of everything to everyone. This process amounts to the erasing of the will of people. In order to restore it we need to remember Allah.

Science cannot validate everything. Recently a Reuters report, August 16, 2000, states that the dark work presses on:

“…pigs offer another prospect. Because they are similar in size and other aspects of biology to humans, they have been seen as a potential source of organs and tissue for transplant into people. Last March, a team at PPL Therapeutics Plc in Edinburgh, Scotland, said they had produced a litter of five piglets using cloning technology. On Wednesday, the science journal Nature made public their report, to be published later this month.”

Meanwhile they worry about retro pig viruses which may make their way intohumankind as a result of this “Science” which fears not God, only death. For this humanism, death is the only real evil. Death is the end and they do not want it at any cost. Any means are therefore human and are justified.

The Muslim fears Allah and not death. He would rather die in submission, than with the heart of a pig. Unfortunately the disparity of between humanistic science and and Islam are too vast to be comprehended by this Edinburgh scientist and their supporters. Those modernist Muslims who supported science as the tools for the reform of Islam, terribly misunderstood the background to modern science. The took Economics, sociology, biology, etc. as the means to a humanistic progress that was anti-Islamic at its core. But they could not see it.

To be human in the sense of being civilised and responding to good behaviourmeans, in the language of the 20th century, to be a good law-abidingcitizen, a tax-payer, and a voter in a democratic state. To be in-human, on the other hand, means to be brutal and to behave boldly with regard to the ideal citizen of the modern state. What is in question when we say human isnot the gender or the specie in comparison to animals. What is in question is the behaviour in reference to the state, that is a peculiar interpretation of right and wrong based upon a peculiar interpretation of man, nature, the world and history. That means that every possible form ofhumanism is based on a metaphysics which presumes an interpretation of
things without any reference to Allah. The State and the Banks, they cannot be human on reference to their scientific enquiring and findings, but onlyin reference to Allah. And nothing else matters more.

Once we accept the metaphysical frame of a version of humanism we admit the intrinsic possibility of other versions of humanisms as well. We couldequally make everybody be seen as in-human on the basis of a completely different type of humanism based on marxist rhetoric or mere environmental concerns. What therefore matters is that this way of judging has no validity before Islam. Islam in that sense denies humanism. To deny humanism does not mean that we affirm in-human, cruel and barbaric behaviour, but rather the negation of the metaphysical grounds on which judgment of behaviour can be made. Islam is above all that. Islam is not based on metaphysical speculation, but in submission to Allah.

If human behaviour is isolated from submission to Allah, then we enter into secular metaphysics. Any social or political or biological definition of man is a reification of man, which prepares the ground for a secular explanation of reality. It also allows us to explain reality in terms of esoteric and exoteric domains, and prepares for the invention of a metaphysical god. Esotericism is not found accidentally at the heart of the historical development of humanism and what is called ‘Human Rights’. Human Rights is rooted in esotericism.

Islam not only denies humanism, but more importantly it denies the possibility of such a diminishing view of man. If man is not given his due with Allah he is reduced to a utilitarian tool. And equally if he is reduced to a utilitarian tool then Allah is denied. Islam denies capitalism which is the standard of modern humanism: there is no such thing as a good capitalist in Islam. The christians and this society in general have accepted the good banker, and today bankers are philanthropists. This is a nihilistic symptom of esotericism. But Allah is the judge. ‘We are not the judges, we are the judged’, which means that ‘we love with the love of Allah and we hate with the hate of Allah’, ‘we like what He likes and we hate what He hates’, ‘we allow what He allows and we forbid what He forbids.’

To accept the banker within the boundaries of humanism is the proof of its falsehood. Because we do not accept the logic that accepts usury alongside good behaviour we could be portrayed as being installed in ‘irrationalism’. And because we are against the capitalist ‘values’ upheld by Human Rights we could be portrayed as having no values. But for us, what they call human, or rights, or logical, or values, or good are empty of meaning. Their bizarre efforts to prove objectively the impunity of usury manifests the artificial nature of their values. To ground these values they have to resort to “I” or “we” decide, or “I” or “we” say. They can not call upon Allah and for this reason humanism will have to oppose Islam forever.

The humanistic morality is the morality of “I do what I can”: a tailor-made ethic that can accommodate any pragmatic behaviour. Nothing that accepts this predicament can be inhuman or unethical. Such subjective vision can accommodate any behaviour. It is an implicit surrender to the almighty technical ordering of a mass society embodied by the state. Any variation or reform of behaviour has to resort to the technical power of the state. This adds to the perplexity and helplessness of the individual.

To call upon Allah is the only way of abandoning this humanistic prison. To call upon Allah is the only way of regaining the capacity to act. It implies the rejection of the terms and conceptual languages used to justified the unjustifiable: usury and the state. Our new language must be based on the Qur’an and our behaviour must be modelled on Rasulullah, sallallahu alaihiwa sallam.

Freedom of religion does not exist, only freedom of consciousness of religion. There is no freedom to practice Islam within any state, because Islam implies the abolition of the state. What they call freedom of religion is to limit Islam to personal and cultural behaviour. To accept the term ‘tolerance’ is the equivalent of affirming the technical dominance of the state over Islam, which implies the direct admission that the law of the state can override Islamic Law. When we are asked to be tolerant we are being asked to give up our religion and to follow theirs: humanism.

Human Rights the XX century foundations for a world state and a world religion. Marc Fumaroli of the Académie Française saw that human rights has become the religion of human rights on the nihilist ruin of the traditional Europe:

“France and its universal language from 1784, in the very spirit of one of the most faithful subjects to the king, had nevertheless disassociated themselves from the royal roots. They were already abstractions ready to receive the new energy of the religion of human rights.”

Umar Ibrahim Vadillo (excerpt on “Esoteric Humanism” from the book “the Esoteric Deviation in Islam”)

ESOTERIC DEVIATION IN ISLAM

Posted January 9, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur


glossary of special terms

*esoteric artinya sesuatu yang terselubung (tidak diketahui secara umum)
*usury artinya riba (membungakan uang atau makan bunga baik lewat tabungan berbunga/ deposito)
uang kertas/ bursa saham/ asuransi/ bank islam/ surat hutang/ kartu kredit semuanya bagian dari
riba, sedangkan demokrasi adalah servis dari perbankan.

melawan (meninggalkan) riba adalah jihad kita hari ini yaitu dengan kembali menggunakan dinar-dirham/ mendirikan pasar bebas islam/ mendirikan wakala-wakala/ mengambil bay’at seorang amir/ menjalankan kembali guilds (paguyuban)/ dzikurullah/ amal madinah.

p20 par3
Reflection on this extraordinary usorious event forces us to make the following initial observation:

by embracing the banking system, governments became the capitalist entities which we call states (fiscal state).

these capitalist entities, and therefore capitalism, demanded a new identity from people.
religious identity was secondary to identity of citizens or subjects as tax payers and clientele

erasing religious identities was called toleration (toleransi) and became a legal matter in all new constitution and new legal system of the new states

the process of reducing religion to common grounds that can be acceptable to the majority (to all mankind) is what we call esotericsation. this process was in conformity with and supported by capitalism.

the matter of identity is key issue of great importance. In Islam the deen is the dominant identity. nationality, race and class are non-issues. Nationality vanished under khalifate, race dissolves with polygamy, and classes dissapear with the establishment of the guilds.

dissolving religious identity can be done in two ways, the agnostic way: ‘all the religions are false’ or the esoteric way: ‘all the religions are true’

dissolving religious identity means that the predominat identity is elevated to the realm of the unquestionable and become orthodoxy. to question the matter of tax payment or the acceptance of a national currency is out of the question. It considered an error. This is therefore an orthodoxy.

in islam, economic identities are debased in conformity with islamic law. The poor, the slave, the freeman, the rich, the master and the apprentice all share common ground that allow interrelationship and change.

islam is government without state and commerce without usury. The arrival of islam will imply, automatically, the destruction of the banking system and its service industry: the state.

bushstard!

Posted January 7, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

Tags:

bushit.jpg

Just this weekend on MEET THE PRESS, Secretary of State Colin Powell reiterated that there is NO connection between Iraq/Saddam Hussein and the events of 9/11, yet the spin that has come out of the White House has resulted in so many Americans still believing that the war in Iraq has something to do with the terror attacks of 9/11. Let’s set the record straight: Even the current administration now admits that there is no connection between Saddam/Iraq and 9/11 this is a matter of record. We now also know that there were no weapons of mass destruction in Iraq and that the government based its case on false evidence. Iraq was on the political agenda of the Republicans before Bush was even elected War in Iraq was not a result of 9/11. 9/11 was used to create fear in the our nation so that Americans would sit quietly and allow this administration to go into Iraq, spending billions of dollars which are drastically needed at home (for jobs, education etc) and sending thousands of soldiers to death and injury. Before the war, Bush said the reason we were going in was the WMDs, now he’s saying a different story NOW, he’s saying we went in because of what a bad evil leader Saddam Hussein was. Sure – Saddam Hussein like many leaders throughout the world was oppressive and cruel, but that rational was not enough for Americans to support sending more than a thousand of our soldiers to their death. If that were enough, we’d be fighting a war in Zimbabwe right now. We were misinformed and misled. The Bush camp keeps trying to say that John Kerry is a waffler because Kerry says he’d still have given Bush permission to go to war, but that Kerry also says that if President, he would not have used that permission to go to war like Bush did–not in that way, not at that time, not with that (mis)information. Kerry says he wouldn’t have gone into Iraq unilaterally, but if he went would first garner the support of the world, but his words are twisted, and all the Bush campaign can do is attack and say that Kerry was both for and against the war. How hypocritical to call Kerry a waffler on war, when Bush is the biggest flip flopper of them all. Take a look at what Bush has said about Osama bin Laden: “We will do everything we can to stop him [Osama bin Laden] here at home, and we’re doing everything we can to hunt him down and bring him to justice.” – G.W. Bush, 11/10/01 “I don’t know where he [Osama bin Laden] is. You know, I just don’t spend that much time on him…I truly am not that concerned about him. ” – G.W. Bush, 3/13/02 Does President Bush think Americans would have stood for this second statement in the days after 9/11? Iraq has taken over the focus that should have been on Afghanistan and Al Quaida, and right now, while soldiers are dying by the dozens each week in Iraq, Bush’s contributors are raking in millions. Men who’ve mostly avoided military service are sending our youth to their death in Iraq, nickel and diming our troops and our vets, and making a pretty penny for their inner circle. According to MoveOn.org Halliburton and its subsidiaries raked in $4.3 billion in contracts in 2003. That’s more than Halliburton had been awarded in contracts in the preceding five years combined, and the figure for this year is sure to be even higher. CHECK OUT MOVEON AD : WHO PROFITS FROM IRAQ We are not safe at home, and we re not safe abroad. Not only is the death toll of American soldiers now at more than a thousand (When Flip Flopper Bush said the mission was accomplished, 138 soldiers were dead), but according to the New York Times American forces appear to be facing a guerrilla insurgency that is more sophisticated and more widespread than ever before. Last month, attacks on American forces {in Iraq} reached their highest level since the war began, an average of 87 per day In an appearance on Sunday on the NBC News program “Meet The Press,” Secretary of State Colin L. Powell acknowledged that the United States faced a “difficult time” in Iraq but had a plan to “bring it under control” before nationwide elections scheduled for January. You’ve gotten chain letters before and most of us hate them. Well, this isn’t a chain letter, but if you don’t share this e-mail with others, don’t blame me if bad luck follows. I am not talking about 7 years of no love or bad sex. I am not talking about bad luck in future relationships. The consequences of not getting this message out are much worse. Four more years of George Bush means four more years of wars, death, catering to the rich at the expense of the rest of us, making the whole world hate the US more and increasing the anti-US terror energy in the world, destruction to the environment, civil rights, and the entire healthcare and social security system. Can any of us live with such bad luck? Besides voting and sharing the truth about the stakes of this election with anyone who will listen, I encourage you to support Move On efforts if you can afford to. Move On is sending field organizers to battleground states to help in the movement to end the terror that the Bush administration has imparted on our nation these past 4 years and to reach out to targeted voters. Help sponsor these efforts: MOVE ON – LEAVE NO VOTER BEHIND MOVE ON says using the Internet to make their work more efficient, they can cover each neighborhood for only $500. With $225 they can knock on the doors of each of our target voters in one neighborhood. With $110 they can run the crucial final 2 weeks of their campaign in one area. With $55 they can contact every voter in one area one last time on Election Day itself. I hope you are as mad as I am at what is happening in Iraq. Dont let our future continue down such deadly paths Get involved, in whatever way you can. Be an election monitor, help encourage people to vote on and near election day. Distribute this flier: Care now because the stakes are too high to not do whatever is possible to protect our future. We must minimize the damage on this world, and getting rid of Bush is the way to do that. By the way, today the ban on assault weapons expires and it is not being renewed thanks to the current administrationGeorge Bush, is this how you keep the homeland safer? By putting assault weapons into the hands of anyone? With protection like that, no wonder we are in such danger! (sources text from internet, tagline by abbas)

insight!

Posted January 4, 2007 by fuqara
Categories: jarang tidur

abbas-at-work.jpg

The Sufis rejoice when a mumin dies because he had done his job and pleased with Allah. When a baby is born, they-sufis are grieved because he is going to face a test of his life. Those who remembers Allah is alive and those who forgot Him are already dead although outwardly they are alive.

Sayyidina Umar r.a. said : Die before you die. It means you must have the knowledge of death which is about the power, decree and secret of Allah’s action while we are alive before facing the real death and ready for Akhirah. Each person build a prison around him while living. The dunya can be a prison if we don’t see its power that masters over the self-nafs. By that we are veiled from the knowledge of Allah.

Tasawwuf is freeing the nafs from this prison which we build by our attachment
, fears, love of this dunya etc.

The kafirun hides the news of death. They feel at loss. They don’t know what to do. They fear it and attributed it to worldly causality..this and that events. For the muslims, it is entirely a matter of the Decree of Allah, the Giver of Life and Taker of Death. It does not matter how things are going our way before we die if we accepted our destiny. To live, worship, obey and love Allah Taala. We are all journeying toward our own death and meeting with Him.

masyaallah lahawla walaquwata illabillah!

MALING-MALING UANG PARKIR!

Posted December 25, 2006 by fuqara
Categories: jarang tidur

 at-monitor.jpg

GILA PARKIR NAIK LAGI!!…binatang aja punya malu..kok orang-orang ini ngga punya malu yak, orang-orang ini yang ngaku -pemerintah- ngga jelas ini menaikkan parkir…DPR dan lembaga legeslatif lainnya yang isinya orang-orang ignorances, yang memang ngga punya hati nurani masuk (terjebak) dalam sistem demokrasi dimana seperti kita ketahui demokrasi adalah pelayan perbankan (riba)…

coba kita hitung secara kasar saja kalo ongkos parkir itu minimal Rp 2000 (dan ngga pakai karcis pula kalo untuk yang parkir jalan, yang seharusnya ada) kalo yang Rp 1000 dikalikan lebih kurang 5 juta mobil adalah Rp 5 MILYAR dalam satu hari dikalikan 25 hari kerja kurang lebih Rp 125 milyar wuahh banyak juga ya, tapi pada kemanaa tuh uang! nah kemana yang Rp 1000 lainnya. semoga Allah melaknat orang yang memakan uang secara tidak halal ini karena jelas dalam islam korupsi adalah termasuk cabang riba!

agym…THIS GUY IS FISHY! kecap..kecap!

Posted December 4, 2006 by fuqara
Categories: jarang tidur

Tags:

lukisan.jpg

…saya heran siapa yang nyebut dia kyai…yah paling media berita!…pernah disatu kesempatan dia ngakunya sebagai pengusaha…oo pengusaha tho (ngga usahlah pake sorban kemana-mana, ilmu ngga ada disorban gym..) kecap deh!….ngomong agama pula…

yang paling baru di media adalah dia sekarang poligami (bukannya hal ini dilarang) tetapi beberapa waktu lalu dia bilang tidak berpoligami (malah kampanye 2B -anti berpolitik dan anti berpoligami)…apa ngga mikir…agym kenapa sih ente ga cari guru biar ga ngaco dan juga bikin bingung orang! budak mah lier (or liar)

tentang poligami kan jelas kok dalam islam hukumnya …punten pisan sadayana…untuk orang awam seh omongan agym kelihatannya mempesona dan renyah..islam yang ramah, what is this? aih agym..poligami itu halal kenapa pula pakai dirahasiakan, agym antum tuh artis yaa atau apa sih..pake ngutip al-hikam pula, kagak ada guru dijamin nyasar lah, yang ada guru aja masih bisa nyasar ..just sick ignorances!

…pernah pula dia ikut meresmikan BEJ (BURSA EFEK JAKARTA) padahal jelas itu bagian dari riba (bunga) cuman karena sok tahu dan ngga tahu fiqh!..habis itu dia dimarahi ulama jawa-barat tentang kasus BEJ..dan dengan enteng dia biang dia ngga tahu. hah!

hal ini bukan mau cari kesalahan dia, tapi karena gayanya dah seolah sperti kyai, tapi hal-hal seperti yang di atas saja ngga ngerti, karbitan secara getuuu…

catatan: jika ingin bertanya silahkan tanya ulama sejati, jangan dengerin komentar dan pendapat orang umum apalagi artis-artis tolol dan serta politikus sampah mereka semua bodoh!

no hard feeling! its just the way it is.

saran saya kepada agym carilah guru sejati (yang hidup) agar tidak ngaco.

BUSHITT!!

Posted November 17, 2006 by fuqara
Categories: jarang tidur

KACUNG KAPITALIS (ATHEIS-HUMANIS)
salah satu kacung perbankan (sistem keuangan riba), bush mau datang ke indonesia…pemerintah kita kayak pembantu aja sibuk ngurusin monyet kafir satu ini..pada sibuk sesibuknya, biasa aja kenapa bow, bush just another stupid ignorance slave of capitalism…..his (bush)hand bedraggled with muslim blood